TEORI BELAJAR KONTRUKTIVISME
TEORI BELAJAR KONTRUKTIVISME
1.
Hakikat
Teori Belajar Kontruktivisme
Teori
Belajar Konstruktivisme adalah sebuah teori yang terbentuk berkat pemikiran
Piaget pada pertengahan abad ke-20. Dalam asumsinya, setiap individu dianggap
sudah memiliki kemampuan untuk mengonstruksi pengetahuannya sejak kecil.
Menurut pandangan Piaget, anak memiliki peran sebagai subjek dalam
mengonstruksi pengetahuan-pengetahuan sehingga bermakna. Sebaliknya, pengetahuan
yang diperoleh hanya melalui proses "memberitahukan", membuat pengetahuan
itu menjadi tidak bermakna karena hanya diingat dalam waktu sementara. Jadi
dalam hal ini Teori Konstruktivisme
memandang belajar sebagai suatu proses mengonstruksi pengetahuan oleh peserta
didik itu sendiri, sehingga belajar diangap sebagai proses pembentukan
pengetahuan bukan hanya pemindahan pengetahuan dari otak seorang guru ke otak
siswa. Dalam teori belajar ini, peserta didik dituntut aktif menyusun mengorganisasi
dan melakukan kegiatan, aktif dalam berpikir, aktif berkegiatan, dan memberikan
pemakna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Sementara guru dalam hal ini
berperan membantu siswa sebagai fasilitator dalam mengonstruksi pengetahuan bukan
sekedar memberikan pengetahuan.
2.
Ciri-Ciri
Teori Belajar Kontruktivisme
Teori
belajar kontruktivisme memiliki ciri-ciri agar memudahkan dalam hal memahami
dan menerapkan teori ini. Driver dan Oldham menjelaskan ciri-ciri teori ini
terdiri atas
1) Orientasi
yang dalam hal ini peserta didik diberikan kesempatan untuk mengembangkan
motivasi dalam mempelajari suatu topik dengan memberi kesempatan melakukan
observasi.
2) Elisitasi,
yang dalam hal ini peserta didik dapat mengungkapkan idenya dengan cara
berdiskusi, menulis, membuat poster, dan berbagai bentuk kegiatan lainnya.
3) Yang
ketiga ada restrukturisasi ide, yang dalam hal ini mencakup klarifikasi ide
dengan orang lain, membangun ide baru, dan mengevaluasi ide baru.
4) Penggunaan
ide baru dalam berbagai situasi atau pengetahuan yang telah terbentuk perlu
diaplikasikan pada macam-macam situasi,
5) Dan
ciri terakhir ada review, yang dalam
pengaplikasian pengetahuan, gagasan diperlukan revisi dengan menambahkan atau
mengubah.
Kemudian dalam
menjelaskan teori ini, terdapat dua asumsi utama yang menjadi dasar kerja
Piaget, yaitu adanya proses mental yang merupakan kelanjutan dari proses motor
bawaan. Dan yang kedua, seseorang berinteraksi dengan dunia sekelilingnya
kemudian ia akan menemukan eksistensi dunia yang dia alami itu selama proses
interaksi tersebut (Syakur, 2009: 56).
3.
Contextual Teaching and Learning
(CTL)
Contextual Teaching and
Learning (CTL) adalah bukti diimplementasikannya teori
belajar konstruktivisme. CTL sendiri adalah konsep belajar sebagai alat bantu guru
dalam mencari hubungan antara materi yang disajikan dengan situasi dunia nyata
peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilıkinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran
kontekstual dibedakan dengan pembelajaran konvensional yang dalam pembelajarannya
berlangsung tanpa mengaitkan secara langsung dengan lingkungan nyata.
4.
Tujuan
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran
kontekstual bertujuan untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan yang
fleksibel, sehingga pengetahuan tersebut dapat diterapkan untuk memecahkan
permasalahan dari satu konteks ke konteks lain lewat media keterkaitan dan
transfer. Dengan transfer diharapkan peserta didik belajar menggali diri
sendiri, bukan sekedar 'pemberian orang lain'. Dan tujuan kedua, keterampilan
dan pengetahuan peserta didik dapat diperluas dari konteks yang terbatas
(sempit) sedikit demi sedikit. Peserta didik juga dapat menemukan jawaban 'untuk
apa' ia belajar, dan "bagaimana' ia menggunakan pengetahuan dan
keterampilannya.
5.
Komponen
Pembelajaran Kontekstual sebagai Implementasi Teori belajar Kontruktivisme
Pembelajaran
Kontekstual memiliki 7 komponen di dalamnya sebagai implementasi teori belajar
kontruktivisme dalam pembelajaran, antara lain (1) Constructivism (Konstruktivisme), (2) Inquiry (Menemukan), (3)
Questioning (Bertanya), (4) Learning
Community (Masyarakat Belajar), (5) Modeling
(Pemodelan), (6) Reflection (Refleksi),
dan (7) Authentic Assessment
(Penilaian yang Sebenarnya), yang semua komponen itu, dijelaskan secara lebih
lengkap sebagai berikut:
1)
Constructivism (Konstruktivisme)
CTL
memiliki landasan berpikir yang disebut konstruktivisme, yakni pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas. Dengan konstruktivisme, diasumsikan bahwa peserta didik
mengkonstruksi pengetahuan dengan mengutamakan 'strategi perolehan'. Dalam hal
ini tugas guru memfasilitasi proses dengan: (1) menjadikan pengetahuan bermakna
dan relevan bagi peseta didik; (2) memberi kesempatan kepada peserta didik
menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan peserta didik agar
menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. Pengetahuan yang diperoleh
dalam proses pembelajaran adalah melalui 'mengonstruksi', bukan melalui
'menerima'. Oleh karena itu, pengetahuan peserta didik tumbuh dan dikembangkan
melalui pengalaman. Di dalam kelas, hal ini bisa dilakukan dengan cara
merancang pembelajaran dalam bentuk penciptaan atau pelahirkan ide baru, yang
kemudian ditumpahkan dalam karya bentuk apapun itu yang bermanfaat, bisa dalam
bentuk karya tulis-menulis seperti menulis karangan, dan lain-lain.
2)
Inquiry (Menemukan)
Hasil
menemukan sendiri dari pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta
didik merupakan inti dari teori ini, bukan hanya didasarkan pada hasil
mengingat mengenai seperangkat fakta. Oleh karena itu, guru harus merancang
pembelajaran yang mengarah pada kegiatan 'menemukan'. Dalam hal ini, Inquiry memiliki siklus sebagai berikut:
(a) observasi (Observation), (b) bertanya
(Questioning), (c) mengajukan dugaan (Hypothesis) (d) pengumpulan data (Data gathering), dan terakhir (e) penyimpulan
(Conclussion).
3)
Questioning (Bertanya)
Tahap
pertama dari proses perolehan pengetahuan adalah “bertanya”. Bagi guru,
bertanya merupakan kegiatan untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan
berpikir pembelajar. Dalam pembelajaran, bertanya merupakan kegiatan menggali
informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian
pada aspek yang belum diketahuinya. Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan
bertanya berguna untuk: (a) menggali informasi, baik administrasi maupun
akademis (b) mengecek pemahaman peserta didik (c) membangkitkan respons peserta
didik (d) mengetahui tingkat keingintahuan peserta didik (e) mengetahui hal-hal
yang sudah diketahui peserta didik (f) memfokuskan perhatian peserta didik pada
sesuatu yang dikehendaki guru (g) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan
dari peserta didik, (h) dan terakhir untuk menyegarkan kembali pengetahuan yang
telah diterima oleh peserta didik.
4)
Learning Community (Komunitas Belajar)
Komunitas belajar adalah suatu kelompok
yang dibentuk agar hasil belajar yang diperoleh, berasal dari hasil kerja sama
antar pelajar atau dengan orang lain. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan CTL
hendaknya guru membentuk kelompok-kelompok belajar. Kelompok belajar yang
dibentuk hendaknya heterogen, yakni ada yang pandai dan ada yang kurang. Di
sini juga diharapkan terjadi cooperative learning (pembelajaran kooperatif).
Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Jigsaw.
Jigsaw dikembangkan dan diuji oleh Eliot
Aronson, dan kemudian dipakai oleh Slavin dan rekannya di John Hopkins. Dalam
pembelajaran, guru dapat mengimplementasikan cara jigsaw dengan cara memerintahkan
peserta didik membentuk tim-tim belajar heterogen yang beranggotakan 4 - 6
orang. Kemudian guru dapat memberikan materi yang berbeda, dan setiap anggota
dari satu kelompok, mempunyai tanggung jawab untuk mengirim perwakilan
masing-masing yang khusus mempelajari materi berbeda tersebut. Para anggota
dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi
(antarahli) saling membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran yang
ditugaskan pada mereka. Selanjutnya, anggota tersebut kembali ke dalam kelompoknya
masing-masing untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya yang lain tentang
apa yang telah mereka pelajari sebelumnya.
Hal ini sangat bermanfaat, karena dalam
suatu komunitas belajar akan terjadi komunikasi secara dua arah karena terjadi
dialog antarindividu dalam suatu kelompok. Hasil belajar pun diharapkan lebih
efisien, karena dapat memperoleh banyak materi dalam waktu yang singkat, dan peserta
didik lebih mudah mengerti materi yang diberikan karena yang mengajari adalah
teman sebayanya.
5)
Modeling (Pemodelan)
Dalam komponen pemodelan, diperlukan model
yang dapat ditiru. Model itu dapat berupa contoh karya tulis, cara menemukan
kata penting dalam bacaan, pembacaan puisi, pembacaan cerpen, dan lain-lain.
Model itu dapat dibuat oleh guru dan dapat pula diambil dari sumber lain,
seperti menghadirkan orang-orang tertentu dari luar. Perlu diingat bahwa guru
bukan satu-satunya model. Peserta didik dapat pula menjadi model dalam
pelaksanaan CTL. Dapat pula model yang diambil dari surat kabar, gambar, foto,
pengumuman, dan lain-lain. Misalnya, guru memperlihatkan pengumuman tentang
laporan keuangan dalam Harian Serambi Indonesia, Waspada, atau Republika
sebagai model pembuatan laporan keuangan. Berdasarkan model tersebut peserta
didik dapat membuat sendiri dengan bekerja sama tanpa memerlukan keterlibatan
guru secara maksimal.
Pemodelan dapat dilakukan di dalam kelas
dan dapat pula dilakukan di luar kelas. Hal ini merupakan salah satu prinsip
yang perlu dipahami bahwa "kelas bukan satu-satunya tempat yang paling baik
belajar". Akan tetapi, pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas dengan
mengadakan aktivitas luar. Aktivitas luar merupakan salah satu kegiatan
pembelajaran berpendekatan kontekstual yang bertujuan mendapatkan pengalaman
belajar secara langsung dengan mengamati dan menghayati objek yang berada di
luar kelas (di lingkungan sekolah) atau di luar lingkungan sekolah (di
masyarakat, di tempat tertentu). Sebagai salah satu kegiatan pembelajaran,
aktivitas luar juga merupakan realisasi suatu program pembelajaran. Oleh karena
itu, aktivitas luar dilaksanakan berdasarkan program yang jelas, yakni yang
dituangkan ke dalam rencana pembelajaran (RP).
Perlu diingat bahwa objek pengamatan
atau tempat kunjungan harus ditentukan dengan memperhatikan jarak tempuh dan ketersediaan
waktu. Banyak hal yang dapat diperoleh dari aktivitas luar itu. Pertama,
peserta didik mengalami secara langsung aktivitas yang dilakukannya. Kedua,
peserta didik dapat mengamati objek sebagaimana adanya tanpa ada rekayasa.
Ketiga, peserta didik dapat memilih hal-hal atau objek yang diamati itu, mana
yang sangat menarik, menarik, dan kurang menarik.
6)
Reflection (Refleksi)
Refleksi
merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru
diterima. Dalam hal ini pembelajar mengendapkan apa yang baru dipelajarinya
sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari
pengetahuan sebelumnya.
7)
Authentic Assessment (Penilaian yang Sebenarnya)
Authentic
Assessment (Penilaian yang Sebenarnya) merupakan penilaian
yang dilakukan berdasarkan data autentik (sebenarnya) dan mencakup berbagai
data yang ada. Penilaian ini menekankan pada proses dan hasil secara
terintegrasi. Kemajuan belajar dilihat dari proses dan bukan semata-mata
berdasarkan hasil. Oleh karena itu, tes hanya salah satu alat yang dapat
digunakan untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik. Penilaian dapat pula
dilakukan oleh pembelajar terhadap pembelajar yang lain walaupun nilai akhir
pembelajar itu berdasarkan hasil atau keputusan guru. Karakteristik Authentic Assessment adalah sebagai
berikut:
a) Dilaksanakan
selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
b) Dapat
digunakan untuk formatif dan sumatif yang diukur berdasarkan keterampilan dan performansi,
bukan mengingat fakta.
c) Berkesinambungan.
d) Terintegrasi.
e) Dapat
digunakan sebagai feed back.
Sementara hal-hal yang diukur dengan
penilaian autentik adalah:
a) Mencakup
keseluruhan aspek dari diri siswa.
b) Tingkatan
berpikir diukur secara serentak dalam tugas autentik (performansi). Dalam hal
ini mengutamakan tingkat berpikir tingkat tinggi.
c) Kemampuan
berpikir kritis, sikap terbuka, keuletan, sikap reflektif, dan strategi
menyelesaikan masalah diamati secara simultan dari tugas-tugas bermakna yang harus
diselesaikan.
d) Keterampilan
sosial (seperti keterampilan bekerja sama, sikap terbuka, menghargai orang
lain, mau mendengar) dapat diamati ketika siswa menyelesaikan tugas bermakna
maupun dalam memperbaiki tugas.
6. Kelebihan dan Kekurangan Teori Kontrukivisme
Teori belajar kontruktivisme, membuat para peserta didik
untuk lebih aktif dan kreatif dalam membentuk dirinya sendiri secara mandiri,
sesuai bakat dan minatnya. Sementara membahas tentang kekurangan atau kelemahan
teori ini, mungkin dalam proses belajarnya tidak semua peserta didik dapat
berkembang dengan sendirinya sesuai inti teori ini tanpa bimbingan oleh guru
secara intensif. Dan kelemahan lain, peran guru sebagai fasilitator, seakan-akan
tidak terlihat dalam pembelajaran, hal ini dapat membuat para guru menyepelekan
peserta didik.selama proses pembelajaran.
7.
Kesimpulan dan Saran
1) Kesimpulan
Teori Konstruktivisme
adalah suatu teori belajar yang memandang belajar sebagai suatu proses
mengonstruksi pengetahuan oleh peserta didik itu sendiri, sehingga belajar diangap
sebagai proses pembentukan pengetahuan bukan hanya pemindahan pengetahuan dari
otak seorang guru ke otak siswa. Teori belajar ini memiliki cirri khas yaitu
peserta didik dituntut aktif menyusun mengorganisasi dan melakukan kegiatan,
aktif dalam berpikir, aktif berkegiatan, dan memberikan pemakna tentang hal-hal
yang sedang dipelajari. Sementara guru dalam hal ini hanya berperan membantu siswa
sebagai fasilitator dalam mengonstruksi pengetahuan bukan sekedar memberikan
pengetahuan. Teori belajar ini, diimplementasikan lewat konsep belajar
yang disebut Contextual
Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual sebagai
alat bantu guru dalam mencari hubungan antara materi yang disajikan dengan
situasi dunia nyata peserta didik. CTL ini pun memiliki 7 komponen dalam
implementasinya antara lain Constructivism
(Konstruktivisme), Inquiry
(Menemukan), Questioning (Bertanya), Learning Community (Masyarakat Belajar),
Modeling (Pemodelan), Reflection (Refleksi), dan Authentic Assessment (Penilaian yang
Sebenarnya). Kelebihan teori ini adalah membuat
peserta didik lebih kreatif dan produktif. Sementara kelemahannya adalah
membuat peran guru seakan tak terlihat.
2) Saran
Untuk para
pendidik yang menggunakan teori ini dalam proses pembelajaran harus bisa
menjadi fasilitator yang baik, dan tanggap terhadap isu-isu terkini. Jangan sampai
menggunakan teori ini, tetapi lepas dari tanggung jawab dalam memberikan bimbingan kepada peserta didik.
DAFTAR REFRENSI
Mahmud, Saifuddin dan Idham, Muhammad. 2019. Teori Belajar Bahasa. Aceh: Syiah Kuala
University Press
Komentar
Posting Komentar