Menggali Karakter Generasi Muda Zaman Sekarang Dari Perspektif Agama Hindu

Menggali Karakter Generasi Muda Zaman Sekarang Dari Perspektif Agama Hindu

   Sebelum membahas mengenai sudut pandang karakter generasi muda pada zaman sekarang, perlu dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan karakter. Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas (Aeni, 2014: 23) diartikan sebagai bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen dan watak. Jadi, yang dibahas disini adalah pandangan-pandangan yang dapat dilihat oleh pancra indra mengenai perilaku, sifat, dan watak yang dimiliki oleh generasi muda pada zaman sekarang sebagai objeknya yang dilihat dari sudut pandang Agama Hindu.

   Membahas fenomena karakter generasi muda pada zaman sekarang, tidak etis rasanya jika yang menilainya adalah generasi muda pada zaman sekarang itu sendiri, orang tua atau orang dewasalah yang mungkin berhak akan hal tersebut. Jika mendengar pendapat orang tua di zaman sekarang banyak yang mengeluh dan menilai karakter anak muda zaman sekarang seperti ini “Karakter anak muda zaman sekarang itu keras”, “Anak muda zaman sekarang sulit sekali diberi tahu, semakin diberi tahu, malah semakin ngelunjak”, itu contoh beberapa pandangan orang tua terhadap karakter generasi muda di zaman sekarang, hal ini tidak bisa secara langsung dibantah, karena jika melihat dari sisi gelapnya, realitanya memang seperti itu yang terjadi di masyarakat, seperti watak pembangkang, sifat indisiplin, berani melawan orang tua, berkelahi dengan saudara. Di sekolah sering terjadi perkelahian antar pelajar, menghina teman, membully guru, melawan guru, membolos, mencotek dan lain-lain (Firdaus, 2019). Karakter itulah yang menghantar banyak generasi muda pada zaman sekarang kearah pergaulan bebas dan kenakalan remaja seperti terlibat Genk Motor yang meresahkan, tawuran, kumpul-kumpul mabuk-mabukan, berjudi, sex bebas, dan yang paling parah terjerumus dalam pengguna atau penyebaran Narkoba.

   Jika ditarik fenomena-fenomena ini, kedalam ayat suci Kitab Suci Agama Hindu yaitu Veda. Ini merupakan salah satu ciri-ciri dari gelapnya zaman Kali Yuga. Seperti cerita di Bhagawata Purana, dimana Sukadewa Gosvami (Putra Rsi Vyasa) memberikan ilustrasi yang akan terjadi di zaman Kali Yuga kepada Maha Raja Pariksit (cucu Arjuna) dan beberapa Rsi yang hadir dalam pengajaran Maha Rsi Sukadewa Gosvami. Pengajaran tersebut dilaksanakan pada awal zaman Kali Yuga. Di salah satu ilustrasinya, Maha Rsi Sukadewa Gosvami menyatakan “Wahai raja, agama, kebenaran, kebersihan, toleransi, belas kasihan, lamanya kehidupan, kekuatan fisik dan ingatan, semua akan berkurang hari demi hari karena pengaruh kuatnya zaman Kali” (Srimad-Bhagavatam 12.2.1). Ilustrasi ini bisa terlihat nyata dari karakter-karakter kurang baik dari generasi muda saat ini yang menyebabkan maraknya kejahatan remaja. Bisa dibandingkan, di zaman dulu seorang murid sangat jarang atau bahkan tidak pernah menghina dan menyakiti orang tua atau gurunya, bahkan seorang Duryodhana sangat menghormati orang tua dan Rsi Drona sebagai gurunya, walau terkenal memiliki sikap yang angkuh dan jahat. Sangat ironi dengan generasi muda di zaman sekarang yang menghina orang tua, guru serta melakukan kenakalan remaja sebagai hal yang lumrah.

   Penelusuran secara mendalam mengenai perkembangan kejahatan atau kenakalan remaja, dari segi psikologis banyak di pengaruhi dari kehidupan keluarga dan masyarakat yang menyatakan keluarga memiliki peran besar bagi timbulnya kenakalan remaja di antaranya yaitu: pola criminal orang tua, tempramen orang tua, sikap ketidakpuasan terhadap orang tua, kualitas rumah tangga (perceraian, kematian, poligami), dan kurangnya perhatian dan kasih sayang (Kartini Kartoni, 1992: 58-63 dalam Firdaus, 2019). Tanpa terasa hal inilah yang membangun kualitas karakter dari Sang Anak dari sejak kecil, baik itu karakter baik atau buruk. Sehingga tidak heran jika tadi dilihat dari sisi gelap, sekarang dari sisi terang, fenomena di zaman sekarang masih banyak generasi muda yang memiliki karakter yang baik, penurut, disiplin, bahkan berprestasi. Dan anak-anak muda itu tidak segan mengatakan bahwa yang utama peran orang tua dan gurunya yang membawa mereka sampai sejauh itu, karena sesungguhnya dirinya adalah cerminan dari orang tuanya. Sehingga dalam literatur Hindu yang dimuat di lontar Semara Reka dan Angastya Prana, disebutkan, untuk dapat mendidik anak agar menjadi seorang yang suputra (anak yang berbudi pekerti luhur), maka terlebih dahulu orangtualah yang harus merubah dirinya menjadi orangtua yang baik (Ananda, 2017). 

   Dari sana dapat diketahui juga bahwa ungkapan James Baldwin yang mengatakan “Anak-anak tidak pernah baik dalam mendengarkan orang yang lebih tua, namun mereka tidak pernah gagal dalam meniru orang yang lebih tua” adalah sesuatu yang benar dalam hal ini . Sehingga menjadi pribadi yang baik, ditiru dan digugu, memberikan pendidikan karakter, perhatian,dan rasa kasih sayang layaknya seorang teman atau sahabat haruslah diberikan dari sejak dini kepada anak oleh orang tua dari lingkungan keluarga, kemudian oleh guru di lingkungan sekolah, agar generasi muda di zaman sekarang memiliki karakter yang baik dan mulia, sesuai dengan etika dan moral dalam masyarakat. Hal ini dipertegas dalam Canakya Nitisastra, III.18 yang berbunyi:

"Laalayet panca-varsani, 
Dasa-varsani taadyet, 
Praapte to sodase varse, 
Putram mitravadaacaret”  

Arti  sloka ini adalah :

“Asuhlah putra dengan memanjakannya sampai berumuh lima tahun, memberikan hukuman-hukuman (maksudnya pendidikan disiplin) selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau sudah ia menginjak umur enam belasan tahun (maksudnya sejak remaja) didiklah dia dengan cara berteman.” (Darna, 2018: 17).

   Pada lontar Semara Reka dan Angastya Prana itu juga disebutkan, saat anak memasuki usia (Drs. I Wayan Darna, 2018)remaja, orangtua harus menerapkan ajaran Catur Naya Sandhi, yaitu sama, beda, dhana, dan danda. Artinya, kapan orangtua harus berposisi sama dan sejajar dengan anak (Sama), kapan harus memposisikan diri berbeda dengan anak yaitu sebagai seorang guru dan pendidik sekaligus pengawas (Beda), kapan harus memberikan hadiah kepada anak sebagai motivasi bagi si anak (Dhana) dan kapan saatnya memberikan hukuman (Danda) (Ananda, 2017).

   Selain memberikan pendidikan karakter, dan menjadi panutan, pengawasan terhadap lingkungan sekitar sang anak juga perlu diperhatikan. Tidak jarang lingkungan keluarga sang anak baik, lingkungan sekolah juga baik, tetapi karena lingkungan sekitarnya diluar lingkup itu kurang baik seperti pergaulan dan pertemanannya, menumbuhkan karakter yang kurang baik juga dalam diri sang anak. Untuk itu, perlu peran ekstra dalam hal ini  terutama untuk orang tua maupun guru dalam memberikan wejangan kepada sang anak mengenai perlunya berhati-hati dalam berteman atau berkawan, mengarahkan anak agar berkawan dengan orang-orang yang mengajarkan hal-hal yang baik dan positif, serta senantiasa mengawasi dan memberikan perhatian kepada sang anak dan lingkungannya. Hal ini sesuai pesan dalam Sarasamuscaya Sloka 300, yang berbunyi sebagai berikut:

Nyang selangakena, ikang sangsarga, 
agelis juganularalan guna ya,
 irikang lot masang sarga lawan maguna, 
wyaktinya, nahan yamboning sekar, 
an tular mara ring dodot wwai, lenga, lemah, 
maka-nimitta pasang sarganya lawan ikang kembang.

Terjemahannya :

“Inilah tentang pergaulan, lekas benar pergaulan itu memindahkan sifat yang baik kepada orang yang selalu bergaul dengan orang yang bersifat utama, buktinya baunya bunga beralih kepada kain, air, minyak dan tanah. disebabkan persentuhannya dengan bunga itu” 

   Jadi dari uraian diatas  maka dapat disimpulkam bahwa, dalam hal ini, orang tua, sekolah dan masyarakat berperan penting dalam memberikan bimbingan moral (susila) dan pendidikan karakter terhadap anak sehingga tidak terjadi penyimpangan perikaku terhadap anak khususnya remaja. Dan teruntuk generasi muda dalam hal ini, peranannya sekarang sebenarnya hanya cukup tahu akan hal ini, dipelajari, pilah yang baik, introfeksi diri, kemudian implementasikan dengan mulai mengembangkan karakter-karakter yang mulia dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat, sehingga dewasa nanti, generasi muda pada zaman sekarang mempunyai bekal menjadi orang tua yang baik serta menjadi panutan dalam  mendidik anaknya agar memiliki karakter yang mulia juga di masa yang akan datang.


Refrensi :

Aeni, Ari Nur. 2014. Pendidikan Karakter Untuk Mahasiswa PGSD. Bandung : UPI PRESS

Afriantoni. 2015. Prinsip-Prinsip Pendidikan Akhlak Generasi Muda: Percikan Pemikiran Ulama Sufi Turki Bediuzzaman Said Nursi . Yogyakarta : DEEPUBLISH.

Ananda, Ida Pandita Mpu Jaya Prema. 2017. Majalah Hindu Raditya. Mengasuh Anak Jadi Suputra. 239.

Darna, I Wayan. 2018. Niti Sastra. Denpasar : Jayapangus Press.


Firdaus, Tya Novita. 2019. Meningkatnya Kenakalan Remaja di Indonesia. Kompasiana. [Online] 7 Maret 2019. [Diakses: 1 April  2020.] https://www.kompasiana.com/tyanovita7/5c80f159ab12ae221e4ad5e7/meningkatnya-kenakalan-remaja-di-indonesia.

Prasita, I Wayan Pradnya. 2015. Senyuman Kelahiran Generasi Muda Hindu Nusantara. Kompasiana. [Online] 11 Maret 2015. [Diakses: 2 April 2020] https://www.kompasiana.com/peradah/552fc52a6ea83446368b4595/senyuman-kelahiran-generasi-muda-hindu-nusantara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEORI BELAJAR KONTRUKTIVISME

MENIMBANG HITAM DAN PUTIH PEMBELAJARAN VIA DARING DI TENGAH PANDEMI VIRUS CORONA