TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
TUGAS PSIKOLOGI PENDIDIKAN
RINGKASAN MATERI TEORI BELAJAR
BEHAVIORISTIK
Dosen
Pengajar
Dr.
Kadek Aria Prima Dewi PF, S.Ag.,M.Pd.
Oleh:
1. Made
Gede Bagus Gunawan Wibiarta (1911011023)
2. Jero
Rafliana (1911011042)
3. I
Dewa Gede Darma Permana (1911011045)
4. Ni
Wayan Pujastala (1911011048)
5. Ni
Luh Putu Ariningsih (1911011050)
6. Ni
Kadek Marina (1911011053)
7. Ni
Kadek Windi Sari (1911011056)
8. Ida
Ayu Melanie Surya (1911011080)
Pendidikan
Agama Hindu
Fakultas
Dharma Acarya
Institut
Hindu Dharma Negeri Denpasar
RINGKASAN MATERI TEORI BELAJAR
BEHAVIORISTIK
1.
Hakikat
Teori Belajar
Teori
berbicara mengenai pengembangan ide-ide yang membantu dalam menjelaskan
bagaimana dan mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Teori diartikan sebagai kumpulan
prinsip-prinsip (principles) yang di susun secara sistematis. Prinsip tersebut
berusaha menjelaskan hubungan hubungan antara fenomena-fenomena yang ada. Setiap
teori akan mengembangkan konsep-konsep yang digunakan sebagai simbol fenomena
tertentu. Dari sana didapatkanlah pengertian teori secara umum sebagai sebuah
sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan antara konsep-konsep
tersebut yang membantu dalam memahami sebuah fenomena. Teori juga diartikan
sebagai sebuah kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan
menyediakan suatu persiapan melakukan tindakan selanjutnya dan memberikan
gambaran sebuah peristiwa, menjelaskan fenomena yang terjadi dalam masyarakat
maupun dalam lingkup suatu ilmu pengetahuan. Teori dalam hal ini memiliki tiga
fungsi yaitu menjelaskan (explanation),
meramalkan (prediction), dan
pengendalian (control) suatu gejala
(Sugiyono, 2007: 81 dalam Sandika, 2014: 18).
Adapun belajar adalah sebuah proses
perubahan didalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut di tampakan dalam
bentuk peningkatan kwalitas dan kwantitas tingkah laku seperti peningkatan
kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasan, pemahaman, ketrampilan daya pikir, dan
kemampuan kemampuan yang lain. Belajar juga diartikan sebagai sebuah aktivitas
mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan
yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan
nilai, dan sikap keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendri
dakam berinteraksi dengan lingkungannya.
Jadi teori belajar adalah suatu teori
yang berkaitan dengan perubahan serta peningatan kwalitas dan kwantitas tingkah
laku seseorang di berbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus
menerus dengan lingkungan sekitarnya (Saeful Rahmat, 2019: 27).
2.
Konsep
Dasar Teori Belajar Behavioristik
Teori
belajar behaviorisme adalah suatu teori yang membahas dan menekankan pentingnya
perubahan dan pembentukan tingkah laku yang tampak sebagai hasil belajar dari
suatu pengalaman. Seiring perkembangannya, teori ini kemudian menjadi aliran
psikologi pembelajaran yang mengarah pada pengembangan teori dan praktik pendidikan
dan pembelajaran sehingga dikenal sebagai aliran behaviorisistik. Teori
Behavioristik ini menempatkan pembelajaran sebagai proses keterkaitan antara stimulus yaitu rangsangan
dari luar yang mempengaruhi, dan respon, yaitu tindak balas dari rangsangan
tersebut, yang dari keterkaitan kedua hal tersebut, terbentuklah hasil proses
tersebut berupa perilaku yang tampak atau dapat dilihat, tidak hanya sesuatu
yang ada dalam pikiran.
Keberhasilan
teori belajar behavioristik ini berupa perubahan perilaku yang ditunjukkan
seseorang setelah mengalami permasalahan di masa lampau. Perubahan inilah yang
mengindikasikan bahwa seseorang merespon suatu kejadian dengan menjadikannya sebagai
suatu pembelajaran untuk tidak menggunakan respon yang sama di masa yang akan
datang. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau
permbiasaan semata, munculnya akan semakin berkualitas bila diberikan penguatan
dan akan menghilang bila diberikan hukuman, contohnya dapat dilihat dari pendisiplinan
terhadap peserta didik yang terlambat berupa teguran, dan bila dilakukan
berkali-kali sebagai kebiasaaan akan dikenai sanksi lebih tegas berupa
pemanggilan orang tua. Contoh lainnya bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari
saat polisi memberikan surat tilang pada
pengendara kendaraan yang tidak mematuhi aturan berlalu intas, seperti tidak menggunakan helm
saat mengendarai sepeda motor (Saeful Rahmat, 2019: 29).
3.
Tokoh-Tokoh Teori Belajar Behavioristik
Terdapat
beberapa ahli yang menjadi tokoh dalam teori ini. Setiap tokoh memiliki
pendapat berdasarkan pemahamannya masing-masing. Beberapa teoretikus tentang
teori belajar behavioristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)
Edward
Lee Thorndike (31 Agustus 1874 - 9 Agustus 1949)
Edward
Thorndike merupakan seorang psikolog berkebangsaan Amerika yang menghabiskan
hampir seluruh karirnya di Columbia Universty. Thomdike mengartikan teori
belajar behavioristik sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon.
Stimulus adalah rangsangan, contohnya seperti pikiran dan perasaan. Sedangkan
respon adalah reaksi yang ditunjukkan akibat stimulus Saeful Rahmat, 2019: 31.
Dengan adanya stimulus itu maka diharapkan timbul respons yang maksimal. Teori ini juga disebut dengan Teori Trial and Error, dalam teori ini orang
yang bisa mengatur hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya, maka dapatkah
orang tersebut memberikan orang yang berhasil dalam belajar.
Dalam
Teori Trial and Error ini berlaku
bagi semua organisme, dan apabila organisme ini dihadapkan dengan keadaan atau
situasi yang baru, maka secara otomatis organisme ini memberikan respon atau
tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau bisa juga berdasarkan naluri
karena pada dasarnya di setiap stimulus itu pasti ditemui respon. Apabila dalam
menimbulkan perbuatan atau tindakan yang cocok atau tindakan-tindakan yang
dilakukan itu memuaskan, maka tindakan ini akan disimpan dalam benak seseorang
atau organisme lainnya karena dirasa diantara tindakan-tindakan yang paling
cocok adalah tindakan itu, selama yang telah dilakukan dalam menanggapi
stimulus adalah situasi baru. Jadi dalam teori ini pengulangan-pengulangan
respon atau tindakan dalam menanggapi stimulus-stimulus baru itu sangat
penting, sehingga sescorang atau organisme mampu menemukan tindakan yang tepat
dan dilakukan sccara terus-menerus agar lebih tajam dan tidak terjadi kemunduran
dalam tindakan atau respon terhadap stimulus (Noorlaila, 2020: 58).
Dalam
hal ini, Thorndike dikenal percobaannya dengan menggunakan kucing. la
meletakkan kucing yang lapar pada sebuah tempat transparan kemudian mengurung
kucing tersebut dan meletakkan makanan di luar tempat pengurungan itu. Kucing
tersebut diamati melakukan beberapa gerakan untuk mencapai makanan yang
dilihatnya. Pada awalnya. kucing berusaha untuk meloncat ke sana ke mari guna
meraih makanan yang dilihatnya. Sampai akhirnya kucing tersebut tidak sengaja
menyentuh kenop yang membukakan jalan dari tempat transparan tersebut sehingga
kucing meraih makanan yang dilihatnya. Percobaan ini dilakukan beberapa kali
hingga kucing, secara otomatis dan terbiasa melakukan gerakan menyentuh kenop
untuk membuka jalan agar ia bisa mendapatkan makanan. Dari percobaan ini,
beliau meyatakan ciri-ciri belajar antara lain:
a) Ada
motif pendorong aktivitas.
b) Ada
berbagai respon terhadap sesuatu.
c) Ada
eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
d) Ada
kemajuan reksi-reaksi mencapai tujuan dari penclitiannya itu (Noorlaila, 2020:
59-60).
Pemahaman dari tokoh Thorndike ini akhirnya
melahirkan beberapa dalil belajar, antara lain: (1) Hukum Sebab Akibat, yang
menunjukkan kuat lemahnya hubungan antara stimulus dengan respon tergantung
pada akibat yang ditimbulkan, (2) Hukum Pembiasaan, yang menunjukkan bahwa
hubungan stimulus dengan respon bisa menjadi kual ketika dilatih atau diulang.
(3) Hukum Kesiapan, yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dengan
respon akan mudah terbentuk jika ada kesiapan dari individu itu; (4) Hukum
Reaksi Bervariasi, yaitu hukum yang menyatakan bahwa individu melakukan trial and error lebih dulu untuk
menunjukkan mendapat respon paling tepat; (5) Hukum Sikap, yaitu hukum yang
menyatakan bahwa perilaku seseorang juga ditentukan oleh keadaan yang ada dalam
diri individu seperti emosi dan psikomotor. (6) Hukum Aktivitas Berat Sebelah,
yaitu individu memberikan respon pada stimulus tertentu sesuai dengan persepsi
terhadap keseluruhan situasi; (7) Hukum Respon, yang merupakan menyatakan
respon tindakan bahkan pada situasi yang belum pemah dialaminya. (8) Hukum
Perpindahan Asosiasi, yaitu proses peralihan situasi lama ke situasi baru
dengan cara bertahap, mengurangi unsur situasi lama dan mengenalkan unsur
situasi baru (Saeful Rahmat, 2019: 31-32).
Dari
seluruh penjelasan diatas dapat diambil contoh penerapan Teori Belajar
Behavioristik Thorndike ini dalam pembelajaran,antar lain:
a) Sebelum
memulai proses belajar mengajar, pendidik harus memastikan siswanya siap
mengikuti pembelajaran tersebut. Jadi setidaknya ada aktivitas yang dapat
menarik perhatian siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
b) Pembelajaran
yang diberikan sebaiknya berupa pemebelajaran yang kontinu. Hal ini dimaksudkan
agar materi lampau dapat tetap diingat oleh siswa.
c) Dalam
proses belajar, pendidik hendaknya menyampaikan materi matematika dengan cara
yang menyenangkan, contoh dan soal latihan tingkat kesulitannya bertahap, dari
yang mudah sampai yang sulit. Hal ini agar siswa mampu menyerap materi yang
diberikan yang diberikan.
d) Pengulangan
terhadap penyampaian materi dan latihan, dapat membantu siswa mengingat materi
terkait lebih lama.
e) Supaya
peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran, proses harus bertahap dari
yang sederhana hingga yang kompleks. Dan peserta didik yang telah belajar
dengan baik harus segera diberi hadiah, dan yang belum baik harus segera
diperbaiki (Noorlaila, 2020: 69).
2)
Ivan
Petrovich Pavlov (14 September 1849 - 27 Februari 1936)
Ivan Pavlov merupakan
seorang fisiolog sekaligus dokter asal Rusia. Pavlov dalam pembahasan mengenai
teori behavioristik, menggunakan percobaan berupa anjing yang dilakukannya
dengan memperlihatkan makanan pada anjing tersebut. Anjing kemudian mengeluarkan
air liur yang merupakan stimulus alami dan diasosiasikan dengan keinginan akan
makanan tersebut. Percobaan kemudian adalah dengan cara membunyikan lonceng
untuk memanggil anjing yang kemudian diperlihatkan makanan. Pada akhirnya,
anjing akan menangkap pembelajaran bahwa lonceng memiliki keterkaitan dengan
makanan, sehingga ketika Pavlov mencoba membunyikan lonceng yang awalnya
digunakan untuk memanggil anjing tersebut, secara otomatis anjing tersebut
sudah menanggapi dengan mengeluarkan air liur (Saeful Rahmat, 2019: 32).
Hasil
eksperimen Pavlov ini akhimya melahirkan Teori Classical Conditioning yang menjelaskan bahwa bentuk paling
sederhana dari proses belajar adalah pengondisian. Teori Classical Conditioning berawal dari usaha Ivan Pavlov dalam
mempelajari bagaimana suatu makhluk hidup. Secara umum, dalam psikologi, teori
belajar makhluk hidup selalu dihubungkan dengan stimulus-respons. Selain itu,
teori- teori tingkah laku turut menjelaskan respons makhluk hidup dengan cara
menghubungkan apa yang dialami atau menjadi stimulus respons tertentu yang
didapat dari lingkungan atau pengondisian tertentu. Proses hubungan yang terus
menerus antara respons yang muncul dan rangsangan yang diberikan inilah yang
kemudian didefinisikan sebagai suatu proses belajar (Alex Sobur, 1981:91 dalam
Noorlaila, 2020: 41).
Kemudian
dijelaskan juga unsur pokok yang dibutuhkan dalam melahirkan pengkondisian
Pavlovian atau pengkondisian klasik adalah:
a) Unconditioned Stimulus
(US)/Stimulus yang tak dikondisikan untuk menimbulkan respon alamiah atau
otomatis dari organisme.
b) Uncoditioned Response
(UR)/ Respon yang tak dikondisikan atau respon alamiah yang timbul akibat
adanya stimulus yang tak dikondisikan (US).
c) Conditioned Stimulus
(CS)/Stimulus yang dikondisikan merupakan stimulus netral yang tidak
menimbulkan alamiah atau otomatis pada organisme.
d) Conditioned
Response (CR)/ Respon yang dikondisikan yang timbul akibat adanva campuran atau
kombinasi antara stimulus yang tak dikondisikan dengan stimulus yang
dikondisikan (Noorlaila, 2020: 42-43).
Dari
teori ini kemudian melahirkan beberapa hukum pembelajaran, yaitu: (1) Hukum
Pembiasaan yang dituntut yang menjelaskan bahwa jika ada dua macam stimulus
yang diberikan secara bersama-sama (dan salah satunya merupakan reinforcer),
maka gerakan reflek pada stimulus lainnya juga meningkat. (2) Hukum Pemusnahan
yang dituntut. Hukum ini memaparkan jika reflek yang diperkuat melalui
respondent conditioning diberikan kembali tanpa adanya reinforcer, maka
kekuatannya akan melemah (Saeful Rahmat, 2019: 33).
Dari
seluruh penjelasan diatas dapat diambil contoh penerapan Teori Belajar
Behavioristik Ivan Petrovich Pavlov (Classical Conditioning) dalam Pendidikan
antara lain:
a) Memberikan
suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar, misalnya
menekankan pada kerjasama dan kompetisi antar kelompok daripada individu,
banyak siswa yang akan memiliki respons emosional secara negatif terhadap
kompetisi secara individual, yang mungkin akan digeneralisasikan dengan
pelajaran-pelajaran yang lain.
b) Membuat
suasana belajar yang menyenangkan dengan menciptakaan ruang membaca (reading
corner) yang nyaman dan enak serta menarik.
c) Membantu
siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan atau
menekan, misalnya mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkaan siswa lain
cara memahami materi pelajaran, membuat tahap jangka pendek untuk mencapai
tujuan jangka panjang, misalnya dengaan memberikan tes harian, mingguan, agar
siswa dapat menyimpan apa yang dipelaiari dengan baik.
d) Jika
siswa takut berbicara depan kelas, guru bisa meminta siswa untuk membacakan
sebuah laporan di depan kelompok kecil sambil duduk di tempat, kemudian
berikutnya dengan berdiri. Setelah dia terbiasa barulah kemudian meminta
membaca laporan di depan seluruh murid (Noorlaila, 2020: 52-53).
3)
Burrhus
Frederic Skinner (20 Maret 1904 - 18 Agustus 1990)
Burrhus
Skinner adalah seorang psikolog dari Amerika yang terkenal akan aliran
behaviorismenya. Skinner memiliki pendapat bahwa, "hubungan antara
stimulus dengan respon yang ditunjukkan individu atau subyek terjadi melalui
interaksi dengan lingkungan". Respon yang ditunjukkan pun tak seluruhnya
merupakan hasil dari rangsangan yang ada, tetapi karena interaksi antara
stimulus yang menghasilkan respon. Respon menghasilkan konsekuensi akan
menghasilkan atau memunculkan perilaku. Dari teori yang dikemukakan thorndike,
Skinner kemudian mengemukakan pendapatnya sendiri dengan memasukkan unsur
penguatan kedalam hukum akibat tersebut, yakni perilaku yang dapat menguatkan
cenderung diulangi kemunculannya, sedangkan perilaku yang tidak dapat
menguatkan cenderung untuk menghilang atau terhapus. Dari sini Skinner dalam
teori behaviorisitk melahirkan buah pemikirannya yang dikenal dengan istilah
Teori Operant Conditioning. Oleh
karena itu Skinner dianggap sebagai bapak operant conditioning (Saeful Rahmat,
2019: 33).
Operant Condtioning
atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan
(penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut
dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Perilaku operan
adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas berbeda dengan
perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya
stimulus tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan adalah: anak
kecil yang tersenyum mendapat permen oleh orang dewasa yang gemas melihatnya,
maka anak tersebut cenderung mengulangi perbuatannya yang semula tidak
disengaja atau tanpa maksud tersebut. Tersenyum adalah perilaku operan dan
permen adalah penguat positifnya (Noorlaila, 2020: 75-76).
Teori
ini mengungkapkan bahwa, tingkah laku bukanlah sekedar respon terhadap
stimulus, tetapi suatu tindakan yang disengaja atau operant. Operant ini
dipengaruhi oleh apa yang terjadi sesudahnya. Jadi operant conditioning atau
operant learning itu melibatkan pengendalian konsekuensi. Tingkah laku ialah
perbuatan yang dilakukan seseorang pada situasi tertentu. Tingkah laku ini
terletak di antara dua pengaruh yaitu pengaruh yang mendahuluinya (antecedent)
dan pengaruh yang mengikutinya (konsekuensi). Dengan demikian, tingkah laku
dapat diubah dengan cara mengubah antecedent, konsekuensi, atau kedua-duanya.
Menurut Skinner konsekuensi itu sangat menentukan apakah seseorang akan
mengulangi suatu tingkah laku pada saat lain di waktu yang akan datang atau
tidak. Skinner menyatakan pendapatnya bahwa tingkah laku pribadi seseorang
merupakan hasil dari respon terhadap lingkungannya. Ada dua macam respon yaitu:
(1) Respondent Response yaitu respon akibat rangsangan tertentu. Contohnya
berupa anjing yang mengeluarkan air liumya ketika majikannya membawakan makanan
untuknya. (2) Operant Response yaitu respon yang muncul dan semakin berkembang
oleh rangsangan tertentu.
Adapun contoh penerapan teori Operant Conditioning dalam dunia
pendidikan, yaitu : Guru menyampaikan stimulus yang mendahuluinya, respon siswa
guru manyampaikan konsekuensi stimulus. “Siapa pembaca teks proklamasi?" "Ir.
Soekarno". "bagus". Dimanakah letak Kertha Gosa? , “Jakarta!"
bukan itu salah. Reward diberikan jika siswa benar, sedangkan bila siswa
menjawab salah berikan penjelasan yang lembut, dan tidak seharusnya mendapatkan
hukuman, karena itu akan membuat siswa takut untuk merespons pertanyaan guru di
waktu yang lain. Pada mulanya pemberian hadiah atau hukuman, dalam jangka
pendek akan mempunyai efek mengubah kenaikan tingkah laku yang diinginkan.
Tetapi, dalam jangka panjang hadiah tetap berefek menaikkan, sedangkan hukuman
justru tidak berfungsi lagi.
Menurut
Skinner hukuman justru menimbulkan efek yang tidak baik, yaitu:
1) Berefek
negatif pada segi emosi, misalnya rasa dendam.
2) Kadang
juga menimbulkan sakit jasmani.
3) Menumbuhkan
agresifitas, ini memungkinkan berbuat yang jauh lebih jelek.
4) Bila
sesuatu aktifitas diberikan hukuman, maka tingkah laku tersebut diberi hukuman,
agar tetap konsekwen (Noorlaila, 2020: 93).
4)
Robert
Gagne
Robert
Gagne merupakan seorang ahli psikologi pendidikan. Gagne memiliki pendapatnya
sendiri mengenai istilah belajar, yaitu sebagai proses suatu organisasi atau
peserta didik berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman yang pernah
dialaminya. Belajar adalah proses yang memerlukan waktu untuk dapat melihat
perubahannya (dari kurang baik menjadi lebih baik). Gagne juga berpendapat
bahwa pembelajaran adalah periode terjadinya penerimaan informasi yang kemudian
diolah dan dihasilkan output dalam bentuk hasil belajar. Tahapan proses
pembelajaran menurun Gagne dijelaskan dalam beberapa tingkatan, yaitu: (1)
motivasi, (2) pemahaman, (3) perolehan; (4) penyimpanan, (5) Ingatan kembali;
(6) generalisasi; (7) perlakuan, dan (8) umpan balik.
Gagne
juga menyatakan adanya beberapa kategori belajar, diantaranya: (1) Verbal Information yaitu informasi berwujud
uraian kata-kata, ulasan, maupun penjelasan yang bisa dikomunikasikan menggunakan
bahasa baik secara lisan maupun tulisan (2) Intellectual Skill merupakan kemampuan
yang dibutuhkan dalam aktivitas mental seperti berpikir, menggunakan logika,
dan memecahkan masalah. (3) Cognitive Strategy, merupakan kemampuan internal
atau dalam diri seseorang dalam berpikir, mengambil keputusan terkait suatu
kejadian (Saeful Rahmat, 2019: 34-35).
Dari
seluruh penjelasan diatas dapat diambil contoh penerapan Teori Belajar
Behavioristik Robert Gagne dalam Pendidikan antara lain:
- Guru dapat melakukan aktivitas yang dapat menarik motivasi peserta didik. Harapannya, peserta didik lebih semangat untuk mempelajari materi yang akan diberikan. Beberapa aktivitas yang dapat digunakan untuk menarik motivasi belajar, seperti: cerita yang mampu memancing pertanyaan, pertanyaan yang menanyakan masa depan peserta didik kedepannya.
- Memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai tujuan belajar yang akan dicapai, tidak hanya itu, pastikan pebelajar paham kenapa mereka harus mempelajari materi tersebut dan ikut aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
- Memberikan pertanyaan kepada peserta didik selama pembelajaran untuk menjelaskan untuk mengetahui apa saja yang sudah diperoleh peserta didik setelah proses pembelajaran.
- Memberikan kuis mendadak kepada peserta didik di akhir pembelajaran untuk mengetahui ingatan peserta didik terhadap materi pembelajaran.
- Event selanjutnya yaitu mengingat kembali pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya. Kegiatan yang dapat dilakukan seperti menanyakan penyimpanan atau pemahaman mereka terhadap pengetahuan sebelumnya, lewat ulangan dan lain-lain.
- Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyimpulkam ulang di akhir materi pembelajaran.
- Memperlakukan dan melakukan evaluasi setelah melihat hasil dari proses satu sampai tujuh (Noorlaila, 2020: 103).
5)
Albert
Bandura
Albert
Bandura adalah seorang psikolog lulusan University of British of Columbia yang
kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Lowa dan Universitas
Stanford. Albert Bandura terkenal akan Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory), yaitu konsep
dalam teori behavioristik yang menekankan komponen kognitif, pikiran,
pemahaman, dan evaluasi. Teori Pembelajaran Sosial ini memiliki konsep utama
pembelajaran dengan metode pengamatan. Menurut teori ini, perilaku individu
bisa timbul karena proses modeling, atau tindakan peniruan.
Modeling
juga dikenal sebagai pembelajaran melalui proses observasi. Pembelajaran ini
tidak sekedar melakukan fotokopi pada tindakan yang dilihatnya tetapi juga
menyesuaikan, baik itu mengurangi, menambahi, atau menggeneralisasi dari satu
observasi ke observasi lainnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan
menentukan apakah seseorang akan belajar dari suatu situasi atau tidak,
faktor-faktor tersebut antara lain:
1) Faktor
Karakteristik Model, faktor ini menjelaskan kalau manusia lebih mungkin
melakukan modeling pada individu contoh dengan status sosial, ekonomi,
pekerjaan yang lebih tinggi. Karakteristik orang yang mempelajari tersebut.
2) Karakteristik
orang yang mempelajari tersebut, biasanya adalah mereka yang tidak memiliki
status, kemampuan, atau pun kekuatan. Misalnya peserta didik yang mengikuti
atau modeling perilaku orang tuanya.
3) Konsekuensi
dari tindakan yang ditiru. Konsekuensi yang semakin besar juga akan semakin
menekan orang untuk melakukan modeling. Misalkan, pegawai kantoran berusaha
sedisiplin mungkin seperti rekan kerjanya untuk menyabet gelar karyawan terbaik
tahun ini (Saeful Rahmat, 2019: 35-36).
Dari
seluruh penjelasan diatas dapat diambil contoh penerapan Teori Belajar
Behavioristik Albert Bandura dalam Pendidikan antara lain :
1) Dari
segi sederhana guru harus bisa menjadi pribadi yang benar-benar digugu dan
ditiru oleh peserta didik, sehingga konsep pembelajaran diusahakan unik yang
membuat peserta didik mau menuruti perintah gurunya. Jadilah juga guru yang
baik dan disenangi siswa sehingga menjadi figure yang menjadi panutan bagi
peserta didik.
2) Guru
dapat meminta peserta didik dalam membuat biografi seseorang atau figure yang
dikaguminya. Lewat biografi tersebut biasanya tersimpan pembelajaran,
kebiasaan, dan prestasi figure yang bisa ditiru siswa tersebut. Dari sana guru
bisa memberikan pembelajaran kepada peserta didik kalau ingin seperti pigur
yang dikaguminya, peserta didik dapat belajar lebih giat.
4.
Inti
Teori Behavioristik
Berdasarkan uraian
di atas, Inti dari teori belajar behavioristik, adalah
1)
Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku
dari pengalaman.
2)
Seseorang dianggap telah belajar jika ia telah
mampu menunjukkan perubahan perilaku.
3)
Pentingnya masukan atau input yang berupa
stimulus dan keluaran yang berupa respon.
4)
Belajar juga merupakan proses pengondisian dari
proses pembiasaan.
5)
Yang bisa diamati dan diukur hanya stimulus dan
respon.
6)
Belajar adalah proses yang memerlukan waktu
untuk dapat melihat perubahannya.
7)
Penguatan adalah faktor penting dalam belajar.
Bila penguatan ditambah maka respon akan semakin kuat, dan jika respon
dikurangi maka respon juga menguat.
8)
Perilaku individu bisa timbul karena proses
modeling, atau tindakan peniruan.
5.
Kelebihan
dan Kekurangan Teori Behavioristik
Setiap Teori
behaviorisme memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan teori
behaviorisme adalah sebagai berikut:
1) Teori
belajar ini cukup cocok untuk pembelajaran dengan tujuan memiliki kemampuan
yang membutuhkan praktik serta pembiasaan disiplin, yang membantu individu
dalam belajar berkesinambungan dengan tujuan mereka bisa menerapkan sebaik
mungkin.
2) Materi
pembelajaran dirancang secara khusus lewat pengalaman.
3) Sesuai
dengan pemahaman pendidik pada peserta didik.
4) Perubahan
belajar menjadi tolak ukur keberhasilan
Adapun
kekurangan teori behaviorisme adalah:
1) Pembelajaran
ini terkesan hanya berpusat pada pendidik, bukannya pada peserta didik atau individu
yang belajar. Hal ini berpotensi membuat individu yang belajar justru
kehilangan kemampuan dan kelebihan alaminya.
2) Pada
tipe peserta belajar tertentu, aplikasi teori belajar ini akan menimbulkan
kebosanan dan justru membentuknya sebagai pribadi yang pasif karena hanya terus
menerima dan menerima, tanpa dilibatkan untuk berpikir dan mengajukan
pendapatnya.
3) Kaku
dan membosankan (Saeful Rahmat, 2019: 36)
6.
Kesimpulan
Teori
belajar behavioristik adalah suatu teori yang membahas dan menekankan pentingnya
perubahan dan pembentukan tingkah laku yang tampak sebagai hasil belajar dari
suatu pengalaman.
Ada lima tokoh behavioristik, yang masing-masing memiliki penekanan
masing-masing dalam proses pembelajaran yaitu Edward Lee
Thorndike dengan Teori Trial And Error, Ivan
Pavlov dengan Teori Classical
Conditioning, Burrhus Skinner dengan Teori Operant Conditioning, Robert Gagne dengan penerimaan informasi, dan
Albert Bandura dengan Teori Pembelajaran Sosial, yang masing-masing teori
tersebut bisa diimplementasikan dalam pendidikan.
7.
Saran
Sebaiknya teori belajar
behavioristik bisa dimanfaatkan untuk mendidik anak atau peserta didik, tetapi
dengan tetap memperhatikan faktor-faktor kekurangan teori belajar ini, karena
seperti kata pepatah guru yang terbaik adalah pengalaman.
SUMBER
REFRENSI
Isti’ada, Feida Noorlaida. 2020. Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan. Jawa
Barat: Edu Publisher
Rahmat, Pupu Saeful. 2019. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Scopindo
Sandika, I Ketut. 2014. Membentuk Siswa Berkarakter Mulia Melalui Pola
Pembelajaran Agama Hindu: Telaah Teks Kitab Chandogya Upanisad. Surabaya :
PARAMITA.


Komentar
Posting Komentar