TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK


TUGAS PSIKOLOGI PENDIDIKAN
RINGKASAN MATERI TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK







Dosen Pengajar

Dr. Kadek Aria Prima Dewi PF, S.Ag.,M.Pd.

Oleh:

1.      Made Gede Bagus Gunawan Wibiarta       (1911011023)
2.      Jero Rafliana                                               (1911011042)
3.      I Dewa Gede Darma Permana                    (1911011045)
4.      Ni Wayan Pujastala                                    (1911011048)
5.      Ni Luh Putu Ariningsih                              (1911011050)
6.      Ni Kadek Marina                                        (1911011053)
7.      Ni Kadek Windi Sari                                  (1911011056)
8.      Ida Ayu Melanie Surya                              (1911011080)


Pendidikan Agama Hindu
Fakultas Dharma Acarya
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Tahun 2020






RINGKASAN MATERI TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK


1.    Hakikat Teori Belajar
Teori berbicara mengenai pengembangan ide-ide yang membantu dalam menjelaskan bagaimana dan mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Teori diartikan sebagai kumpulan prinsip-prinsip (principles) yang di susun secara sistematis. Prinsip tersebut berusaha menjelaskan hubungan hubungan antara fenomena-fenomena yang ada. Setiap teori akan mengembangkan konsep-konsep yang digunakan sebagai simbol fenomena tertentu. Dari sana didapatkanlah pengertian teori secara umum sebagai sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan antara konsep-konsep tersebut yang membantu dalam memahami sebuah fenomena. Teori juga diartikan sebagai sebuah kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu persiapan melakukan tindakan selanjutnya dan memberikan gambaran sebuah peristiwa, menjelaskan fenomena yang terjadi dalam masyarakat maupun dalam lingkup suatu ilmu pengetahuan. Teori dalam hal ini memiliki tiga fungsi yaitu menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control) suatu gejala (Sugiyono, 2007: 81 dalam Sandika, 2014: 18).
            Adapun belajar adalah sebuah proses perubahan didalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut di tampakan dalam bentuk peningkatan kwalitas dan kwantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasan, pemahaman, ketrampilan daya pikir, dan kemampuan kemampuan yang lain. Belajar juga diartikan sebagai sebuah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan nilai, dan sikap keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendri dakam berinteraksi dengan lingkungannya.
       Jadi teori belajar adalah suatu teori yang berkaitan dengan perubahan serta peningatan kwalitas dan kwantitas tingkah laku seseorang di berbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan sekitarnya (Saeful Rahmat, 2019: 27).

2.    Konsep Dasar Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behaviorisme adalah suatu teori yang membahas dan menekankan pentingnya perubahan dan pembentukan tingkah laku yang tampak sebagai hasil belajar dari suatu pengalaman. Seiring perkembangannya, teori ini kemudian menjadi aliran psikologi pembelajaran yang mengarah pada pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran sehingga dikenal sebagai aliran behaviorisistik. Teori Behavioristik ini menempatkan pembelajaran sebagai proses  keterkaitan antara stimulus yaitu rangsangan dari luar yang mempengaruhi, dan respon, yaitu tindak balas dari rangsangan tersebut, yang dari keterkaitan kedua hal tersebut, terbentuklah hasil proses tersebut berupa perilaku yang tampak atau dapat dilihat, tidak hanya sesuatu yang ada dalam pikiran.
Keberhasilan teori belajar behavioristik ini berupa perubahan perilaku yang ditunjukkan seseorang setelah mengalami permasalahan di masa lampau. Perubahan inilah yang mengindikasikan bahwa seseorang merespon suatu kejadian dengan menjadikannya sebagai suatu pembelajaran untuk tidak menggunakan respon yang sama di masa yang akan datang. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau permbiasaan semata, munculnya akan semakin berkualitas bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila diberikan hukuman, contohnya dapat dilihat dari pendisiplinan terhadap peserta didik yang terlambat berupa teguran, dan bila dilakukan berkali-kali sebagai kebiasaaan akan dikenai sanksi lebih tegas berupa pemanggilan orang tua. Contoh lainnya bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari saat polisi  memberikan surat tilang pada pengendara kendaraan yang tidak mematuhi aturan  berlalu intas, seperti tidak menggunakan helm saat mengendarai sepeda motor (Saeful Rahmat, 2019: 29).

3.    Tokoh-Tokoh Teori Belajar Behavioristik

Terdapat beberapa ahli yang menjadi tokoh dalam teori ini. Setiap tokoh memiliki pendapat berdasarkan pemahamannya masing-masing. Beberapa teoretikus tentang teori belajar behavioristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 

1)      Edward Lee Thorndike (31 Agustus 1874 - 9 Agustus 1949)

Edward Thorndike merupakan seorang psikolog berkebangsaan Amerika yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di Columbia Universty. Thomdike mengartikan teori belajar behavioristik sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah rangsangan, contohnya seperti pikiran dan perasaan. Sedangkan respon adalah reaksi yang ditunjukkan akibat stimulus Saeful Rahmat, 2019: 31. Dengan adanya stimulus itu maka diharapkan timbul respons yang maksimal.  Teori ini juga disebut dengan Teori Trial and Error, dalam teori ini orang yang bisa mengatur hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya, maka dapatkah orang tersebut memberikan orang yang berhasil dalam belajar.

Dalam Teori Trial and Error ini berlaku bagi semua organisme, dan apabila organisme ini dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang baru, maka secara otomatis organisme ini memberikan respon atau tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau bisa juga berdasarkan naluri karena pada dasarnya di setiap stimulus itu pasti ditemui respon. Apabila dalam menimbulkan perbuatan atau tindakan yang cocok atau tindakan-tindakan yang dilakukan itu memuaskan, maka tindakan ini akan disimpan dalam benak seseorang atau organisme lainnya karena dirasa diantara tindakan-tindakan yang paling cocok adalah tindakan itu, selama yang telah dilakukan dalam menanggapi stimulus adalah situasi baru. Jadi dalam teori ini pengulangan-pengulangan respon atau tindakan dalam menanggapi stimulus-stimulus baru itu sangat penting, sehingga sescorang atau organisme mampu menemukan tindakan yang tepat dan dilakukan sccara terus-menerus agar lebih tajam dan tidak terjadi kemunduran dalam tindakan atau respon terhadap stimulus (Noorlaila, 2020: 58).

Dalam hal ini, Thorndike dikenal percobaannya dengan menggunakan kucing. la meletakkan kucing yang lapar pada sebuah tempat transparan kemudian mengurung kucing tersebut dan meletakkan makanan di luar tempat pengurungan itu. Kucing tersebut diamati melakukan beberapa gerakan untuk mencapai makanan yang dilihatnya. Pada awalnya. kucing berusaha untuk meloncat ke sana ke mari guna meraih makanan yang dilihatnya. Sampai akhirnya kucing tersebut tidak sengaja menyentuh kenop yang membukakan jalan dari tempat transparan tersebut sehingga kucing meraih makanan yang dilihatnya. Percobaan ini dilakukan beberapa kali hingga kucing, secara otomatis dan terbiasa melakukan gerakan menyentuh kenop untuk membuka jalan agar ia bisa mendapatkan makanan. Dari percobaan ini, beliau meyatakan ciri-ciri belajar antara lain:
a)      Ada motif pendorong aktivitas.
b)      Ada berbagai respon terhadap sesuatu.
c)      Ada eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
d)   Ada kemajuan reksi-reaksi mencapai tujuan dari penclitiannya itu (Noorlaila, 2020: 59-60).

 Pemahaman dari tokoh Thorndike ini akhirnya melahirkan beberapa dalil belajar, antara lain: (1) Hukum Sebab Akibat, yang menunjukkan kuat lemahnya hubungan antara stimulus dengan respon tergantung pada akibat yang ditimbulkan, (2) Hukum Pembiasaan, yang menunjukkan bahwa hubungan stimulus dengan respon bisa menjadi kual ketika dilatih atau diulang. (3) Hukum Kesiapan, yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dengan respon akan mudah terbentuk jika ada kesiapan dari individu itu; (4) Hukum Reaksi Bervariasi, yaitu hukum yang menyatakan bahwa individu melakukan trial and error lebih dulu untuk menunjukkan mendapat respon paling tepat; (5) Hukum Sikap, yaitu hukum yang menyatakan bahwa perilaku seseorang juga ditentukan oleh keadaan yang ada dalam diri individu seperti emosi dan psikomotor. (6) Hukum Aktivitas Berat Sebelah, yaitu individu memberikan respon pada stimulus tertentu sesuai dengan persepsi terhadap keseluruhan situasi; (7) Hukum Respon, yang merupakan menyatakan respon tindakan bahkan pada situasi yang belum pemah dialaminya. (8) Hukum Perpindahan Asosiasi, yaitu proses peralihan situasi lama ke situasi baru dengan cara bertahap, mengurangi unsur situasi lama dan mengenalkan unsur situasi baru (Saeful Rahmat, 2019: 31-32).

Dari seluruh penjelasan diatas dapat diambil contoh penerapan Teori Belajar Behavioristik Thorndike ini dalam pembelajaran,antar lain:
a)  Sebelum memulai proses belajar mengajar, pendidik harus memastikan siswanya siap mengikuti pembelajaran tersebut. Jadi setidaknya ada aktivitas yang dapat menarik perhatian siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
b)  Pembelajaran yang diberikan sebaiknya berupa pemebelajaran yang kontinu. Hal ini dimaksudkan agar materi lampau dapat tetap diingat oleh siswa.
c)      Dalam proses belajar, pendidik hendaknya menyampaikan materi matematika dengan cara yang menyenangkan, contoh dan soal latihan tingkat kesulitannya bertahap, dari yang mudah sampai yang sulit. Hal ini agar siswa mampu menyerap materi yang diberikan yang diberikan.
d)     Pengulangan terhadap penyampaian materi dan latihan, dapat membantu siswa mengingat materi terkait lebih lama.
e)   Supaya peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran, proses harus bertahap dari yang sederhana hingga yang kompleks. Dan peserta didik yang telah belajar dengan baik harus segera diberi hadiah, dan yang belum baik harus segera diperbaiki (Noorlaila, 2020: 69).

2)      Ivan Petrovich Pavlov (14 September 1849 - 27 Februari 1936)

 Ivan Pavlov merupakan seorang fisiolog sekaligus dokter asal Rusia. Pavlov dalam pembahasan mengenai teori behavioristik, menggunakan percobaan berupa anjing yang dilakukannya dengan memperlihatkan makanan pada anjing tersebut. Anjing kemudian mengeluarkan air liur yang merupakan stimulus alami dan diasosiasikan dengan keinginan akan makanan tersebut. Percobaan kemudian adalah dengan cara membunyikan lonceng untuk memanggil anjing yang kemudian diperlihatkan makanan. Pada akhirnya, anjing akan menangkap pembelajaran bahwa lonceng memiliki keterkaitan dengan makanan, sehingga ketika Pavlov mencoba membunyikan lonceng yang awalnya digunakan untuk memanggil anjing tersebut, secara otomatis anjing tersebut sudah menanggapi dengan mengeluarkan air liur (Saeful Rahmat, 2019: 32).

Analogi Anjing Pada Percobaan I. P. Pavlop

Hasil eksperimen Pavlov ini akhimya melahirkan Teori Classical Conditioning yang menjelaskan bahwa bentuk paling sederhana dari proses belajar adalah pengondisian. Teori Classical Conditioning berawal dari usaha Ivan Pavlov dalam mempelajari bagaimana suatu makhluk hidup. Secara umum, dalam psikologi, teori belajar makhluk hidup selalu dihubungkan dengan stimulus-respons. Selain itu, teori- teori tingkah laku turut menjelaskan respons makhluk hidup dengan cara menghubungkan apa yang dialami atau menjadi stimulus respons tertentu yang didapat dari lingkungan atau pengondisian tertentu. Proses hubungan yang terus menerus antara respons yang muncul dan rangsangan yang diberikan inilah yang kemudian didefinisikan sebagai suatu proses belajar (Alex Sobur, 1981:91 dalam Noorlaila, 2020: 41).

Kemudian dijelaskan juga unsur pokok yang dibutuhkan dalam melahirkan pengkondisian Pavlovian atau pengkondisian klasik adalah:
a)    Unconditioned Stimulus (US)/Stimulus yang tak dikondisikan untuk menimbulkan respon alamiah atau otomatis dari organisme.
b)   Uncoditioned Response (UR)/ Respon yang tak dikondisikan atau respon alamiah yang timbul akibat adanya stimulus yang tak dikondisikan (US).
c)    Conditioned Stimulus (CS)/Stimulus yang dikondisikan merupakan stimulus netral yang tidak menimbulkan alamiah atau otomatis pada organisme.
d)   Conditioned Response (CR)/ Respon yang dikondisikan yang timbul akibat adanva campuran atau kombinasi antara stimulus yang tak dikondisikan dengan stimulus yang dikondisikan (Noorlaila, 2020: 42-43).

Dari teori ini kemudian melahirkan beberapa hukum pembelajaran, yaitu: (1) Hukum Pembiasaan yang dituntut yang menjelaskan bahwa jika ada dua macam stimulus yang diberikan secara bersama-sama (dan salah satunya merupakan reinforcer), maka gerakan reflek pada stimulus lainnya juga meningkat. (2) Hukum Pemusnahan yang dituntut. Hukum ini memaparkan jika reflek yang diperkuat melalui respondent conditioning diberikan kembali tanpa adanya reinforcer, maka kekuatannya akan melemah (Saeful Rahmat, 2019: 33).

Dari seluruh penjelasan diatas dapat diambil contoh penerapan Teori Belajar Behavioristik Ivan Petrovich Pavlov (Classical Conditioning) dalam Pendidikan antara lain:
a)  Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar, misalnya menekankan pada kerjasama dan kompetisi antar kelompok daripada individu, banyak siswa yang akan memiliki respons emosional secara negatif terhadap kompetisi secara individual, yang mungkin akan digeneralisasikan dengan pelajaran-pelajaran yang lain.
b) Membuat suasana belajar yang menyenangkan dengan menciptakaan ruang membaca (reading corner) yang nyaman dan enak serta menarik.
c)  Membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan atau menekan, misalnya mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkaan siswa lain cara memahami materi pelajaran, membuat tahap jangka pendek untuk mencapai tujuan jangka panjang, misalnya dengaan memberikan tes harian, mingguan, agar siswa dapat menyimpan apa yang dipelaiari dengan baik.
d) Jika siswa takut berbicara depan kelas, guru bisa meminta siswa untuk membacakan sebuah laporan di depan kelompok kecil sambil duduk di tempat, kemudian berikutnya dengan berdiri. Setelah dia terbiasa barulah kemudian meminta membaca laporan di depan seluruh murid (Noorlaila, 2020: 52-53).

3)        Burrhus Frederic Skinner (20 Maret 1904 - 18 Agustus 1990)

Burrhus Skinner adalah seorang psikolog dari Amerika yang terkenal akan aliran behaviorismenya. Skinner memiliki pendapat bahwa, "hubungan antara stimulus dengan respon yang ditunjukkan individu atau subyek terjadi melalui interaksi dengan lingkungan". Respon yang ditunjukkan pun tak seluruhnya merupakan hasil dari rangsangan yang ada, tetapi karena interaksi antara stimulus yang menghasilkan respon. Respon menghasilkan konsekuensi akan menghasilkan atau memunculkan perilaku. Dari teori yang dikemukakan thorndike, Skinner kemudian mengemukakan pendapatnya sendiri dengan memasukkan unsur penguatan kedalam hukum akibat tersebut, yakni perilaku yang dapat menguatkan cenderung diulangi kemunculannya, sedangkan perilaku yang tidak dapat menguatkan cenderung untuk menghilang atau terhapus. Dari sini Skinner dalam teori behaviorisitk melahirkan buah pemikirannya yang dikenal dengan istilah Teori Operant Conditioning. Oleh karena itu Skinner dianggap sebagai bapak operant conditioning (Saeful Rahmat, 2019: 33).

Operant Condtioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan adalah: anak kecil yang tersenyum mendapat permen oleh orang dewasa yang gemas melihatnya, maka anak tersebut cenderung mengulangi perbuatannya yang semula tidak disengaja atau tanpa maksud tersebut. Tersenyum adalah perilaku operan dan permen adalah penguat positifnya (Noorlaila, 2020: 75-76).

Teori ini mengungkapkan bahwa, tingkah laku bukanlah sekedar respon terhadap stimulus, tetapi suatu tindakan yang disengaja atau operant. Operant ini dipengaruhi oleh apa yang terjadi sesudahnya. Jadi operant conditioning atau operant learning itu melibatkan pengendalian konsekuensi. Tingkah laku ialah perbuatan yang dilakukan seseorang pada situasi tertentu. Tingkah laku ini terletak di antara dua pengaruh yaitu pengaruh yang mendahuluinya (antecedent) dan pengaruh yang mengikutinya (konsekuensi). Dengan demikian, tingkah laku dapat diubah dengan cara mengubah antecedent, konsekuensi, atau kedua-duanya. Menurut Skinner konsekuensi itu sangat menentukan apakah seseorang akan mengulangi suatu tingkah laku pada saat lain di waktu yang akan datang atau tidak. Skinner menyatakan pendapatnya bahwa tingkah laku pribadi seseorang merupakan hasil dari respon terhadap lingkungannya. Ada dua macam respon yaitu: (1) Respondent Response yaitu respon akibat rangsangan tertentu. Contohnya berupa anjing yang mengeluarkan air liumya ketika majikannya membawakan makanan untuknya. (2) Operant Response yaitu respon yang muncul dan semakin berkembang oleh rangsangan tertentu.

 Adapun contoh penerapan teori Operant Conditioning dalam dunia pendidikan, yaitu : Guru menyampaikan stimulus yang mendahuluinya, respon siswa guru manyampaikan konsekuensi stimulus. “Siapa pembaca teks proklamasi?" "Ir. Soekarno". "bagus". Dimanakah letak Kertha Gosa? , “Jakarta!" bukan itu salah. Reward diberikan jika siswa benar, sedangkan bila siswa menjawab salah berikan penjelasan yang lembut, dan tidak seharusnya mendapatkan hukuman, karena itu akan membuat siswa takut untuk merespons pertanyaan guru di waktu yang lain. Pada mulanya pemberian hadiah atau hukuman, dalam jangka pendek akan mempunyai efek mengubah kenaikan tingkah laku yang diinginkan. Tetapi, dalam jangka panjang hadiah tetap berefek menaikkan, sedangkan hukuman justru tidak berfungsi lagi.
Menurut Skinner hukuman justru menimbulkan efek yang tidak baik, yaitu:
1)      Berefek negatif pada segi emosi, misalnya rasa dendam.
2)      Kadang juga menimbulkan sakit jasmani.
3)      Menumbuhkan agresifitas, ini memungkinkan berbuat yang jauh lebih jelek.
4)      Bila sesuatu aktifitas diberikan hukuman, maka tingkah laku tersebut diberi hukuman, agar tetap konsekwen (Noorlaila, 2020: 93).

4)      Robert Gagne

Robert Gagne merupakan seorang ahli psikologi pendidikan. Gagne memiliki pendapatnya sendiri mengenai istilah belajar, yaitu sebagai proses suatu organisasi atau peserta didik berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman yang pernah dialaminya. Belajar adalah proses yang memerlukan waktu untuk dapat melihat perubahannya (dari kurang baik menjadi lebih baik). Gagne juga berpendapat bahwa pembelajaran adalah periode terjadinya penerimaan informasi yang kemudian diolah dan dihasilkan output dalam bentuk hasil belajar. Tahapan proses pembelajaran menurun Gagne dijelaskan dalam beberapa tingkatan, yaitu: (1) motivasi, (2) pemahaman, (3) perolehan; (4) penyimpanan, (5) Ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan, dan (8) umpan balik.

Gagne juga menyatakan adanya beberapa kategori belajar, diantaranya: (1) Verbal Information yaitu informasi berwujud uraian kata-kata, ulasan, maupun penjelasan yang bisa dikomunikasikan menggunakan bahasa baik secara lisan maupun tulisan (2)  Intellectual Skill merupakan kemampuan yang dibutuhkan dalam aktivitas mental seperti berpikir, menggunakan logika, dan memecahkan masalah. (3) Cognitive Strategy, merupakan kemampuan internal atau dalam diri seseorang dalam berpikir, mengambil keputusan terkait suatu kejadian (Saeful Rahmat, 2019: 34-35).
Dari seluruh penjelasan diatas dapat diambil contoh penerapan Teori Belajar Behavioristik Robert Gagne dalam Pendidikan antara lain:
  1.  Guru dapat melakukan aktivitas yang dapat menarik motivasi peserta didik. Harapannya, peserta didik lebih semangat untuk mempelajari materi yang akan diberikan. Beberapa aktivitas yang dapat digunakan untuk menarik motivasi belajar, seperti: cerita yang mampu memancing pertanyaan, pertanyaan yang menanyakan masa depan peserta didik kedepannya. 
  2.  Memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai tujuan belajar yang akan dicapai, tidak hanya itu, pastikan pebelajar paham kenapa mereka harus mempelajari materi tersebut dan ikut aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
  3. Memberikan pertanyaan kepada peserta didik  selama pembelajaran untuk menjelaskan untuk mengetahui apa saja yang sudah diperoleh peserta didik setelah proses pembelajaran.
  4. Memberikan kuis mendadak kepada peserta didik di akhir pembelajaran untuk mengetahui ingatan peserta didik terhadap materi pembelajaran.
  5. Event selanjutnya yaitu mengingat kembali pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya. Kegiatan yang dapat dilakukan seperti menanyakan penyimpanan atau pemahaman mereka terhadap pengetahuan sebelumnya, lewat ulangan dan lain-lain.
  6. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyimpulkam ulang di akhir materi pembelajaran. 
  7.  Memperlakukan dan melakukan evaluasi setelah melihat hasil dari proses satu sampai tujuh (Noorlaila, 2020: 103).

5)   Albert Bandura

Albert Bandura adalah seorang psikolog lulusan University of British of Columbia yang kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Lowa dan Universitas Stanford. Albert Bandura terkenal akan Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory), yaitu konsep dalam teori behavioristik yang menekankan komponen kognitif, pikiran, pemahaman, dan evaluasi. Teori Pembelajaran Sosial ini memiliki konsep utama pembelajaran dengan metode pengamatan. Menurut teori ini, perilaku individu bisa timbul karena proses modeling, atau tindakan peniruan.

Modeling juga dikenal sebagai pembelajaran melalui proses observasi. Pembelajaran ini tidak sekedar melakukan fotokopi pada tindakan yang dilihatnya tetapi juga menyesuaikan, baik itu mengurangi, menambahi, atau menggeneralisasi dari satu observasi ke observasi lainnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan menentukan apakah seseorang akan belajar dari suatu situasi atau tidak, faktor-faktor tersebut antara lain:
1)   Faktor Karakteristik Model, faktor ini menjelaskan kalau manusia lebih mungkin melakukan modeling pada individu contoh dengan status sosial, ekonomi, pekerjaan yang lebih tinggi. Karakteristik orang yang mempelajari tersebut.
2)   Karakteristik orang yang mempelajari tersebut, biasanya adalah mereka yang tidak memiliki status, kemampuan, atau pun kekuatan. Misalnya peserta didik yang mengikuti atau modeling perilaku orang tuanya.
3)   Konsekuensi dari tindakan yang ditiru. Konsekuensi yang semakin besar juga akan semakin menekan orang untuk melakukan modeling. Misalkan, pegawai kantoran berusaha sedisiplin mungkin seperti rekan kerjanya untuk menyabet gelar karyawan terbaik tahun ini (Saeful Rahmat, 2019: 35-36).

Dari seluruh penjelasan diatas dapat diambil contoh penerapan Teori Belajar Behavioristik Albert Bandura dalam Pendidikan antara lain :
1)      Dari segi sederhana guru harus bisa menjadi pribadi yang benar-benar digugu dan ditiru oleh peserta didik, sehingga konsep pembelajaran diusahakan unik yang membuat peserta didik mau menuruti perintah gurunya. Jadilah juga guru yang baik dan disenangi siswa sehingga menjadi figure yang menjadi panutan bagi peserta didik.
2)      Guru dapat meminta peserta didik dalam membuat biografi seseorang atau figure yang dikaguminya. Lewat biografi tersebut biasanya tersimpan pembelajaran, kebiasaan, dan prestasi figure yang bisa ditiru siswa tersebut. Dari sana guru bisa memberikan pembelajaran kepada peserta didik kalau ingin seperti pigur yang dikaguminya, peserta didik dapat belajar lebih giat.

4.    Inti Teori Behavioristik
Berdasarkan uraian di atas, Inti dari teori belajar behavioristik, adalah  
1)                Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku dari pengalaman.
2)                Seseorang dianggap telah belajar jika ia telah mampu menunjukkan perubahan perilaku.
3)                Pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran yang berupa respon.
4)                Belajar juga merupakan proses pengondisian dari proses pembiasaan.
5)                Yang bisa diamati dan diukur hanya stimulus dan respon.
6)                Belajar adalah proses yang memerlukan waktu untuk dapat melihat perubahannya.
7)                Penguatan adalah faktor penting dalam belajar. Bila penguatan ditambah maka respon akan semakin kuat, dan jika respon dikurangi maka respon juga menguat.
8)                Perilaku individu bisa timbul karena proses modeling, atau tindakan peniruan.

5.    Kelebihan dan Kekurangan Teori Behavioristik

Setiap Teori behaviorisme memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan teori behaviorisme adalah sebagai berikut:
1)      Teori belajar ini cukup cocok untuk pembelajaran dengan tujuan memiliki kemampuan yang membutuhkan praktik serta pembiasaan disiplin, yang membantu individu dalam belajar berkesinambungan dengan tujuan mereka bisa menerapkan sebaik mungkin.
2)      Materi pembelajaran dirancang secara khusus lewat pengalaman.
3)      Sesuai dengan pemahaman pendidik pada peserta didik.
4)      Perubahan belajar menjadi tolak ukur keberhasilan

Adapun kekurangan teori behaviorisme adalah:
1)      Pembelajaran ini terkesan hanya berpusat pada pendidik, bukannya pada peserta didik atau individu yang belajar. Hal ini berpotensi membuat individu yang belajar justru kehilangan kemampuan dan kelebihan alaminya.
2)      Pada tipe peserta belajar tertentu, aplikasi teori belajar ini akan menimbulkan kebosanan dan justru membentuknya sebagai pribadi yang pasif karena hanya terus menerima dan menerima, tanpa dilibatkan untuk berpikir dan mengajukan pendapatnya.
3)      Kaku dan membosankan (Saeful Rahmat, 2019: 36)   

6.      Kesimpulan
Teori belajar behavioristik adalah suatu teori yang membahas dan menekankan pentingnya perubahan dan pembentukan tingkah laku yang tampak sebagai hasil belajar dari suatu pengalaman. Ada lima tokoh behavioristik, yang masing-masing memiliki penekanan masing-masing dalam proses pembelajaran yaitu Edward Lee Thorndike dengan Teori Trial And Error, Ivan Pavlov dengan Teori Classical Conditioning, Burrhus Skinner dengan Teori Operant Conditioning, Robert Gagne dengan penerimaan informasi, dan Albert Bandura dengan Teori Pembelajaran Sosial, yang masing-masing teori tersebut bisa diimplementasikan dalam pendidikan.

7.        Saran
Sebaiknya teori belajar behavioristik bisa dimanfaatkan untuk mendidik anak atau peserta didik, tetapi dengan tetap memperhatikan faktor-faktor kekurangan teori belajar ini, karena seperti kata pepatah guru yang terbaik adalah pengalaman.





SUMBER REFRENSI

Isti’ada, Feida Noorlaida. 2020. Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan. Jawa Barat: Edu Publisher
Rahmat, Pupu Saeful. 2019. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Scopindo
Sandika, I Ketut. 2014. Membentuk Siswa Berkarakter Mulia Melalui Pola Pembelajaran Agama Hindu: Telaah Teks Kitab Chandogya Upanisad. Surabaya : PARAMITA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEORI BELAJAR KONTRUKTIVISME

MENIMBANG HITAM DAN PUTIH PEMBELAJARAN VIA DARING DI TENGAH PANDEMI VIRUS CORONA