TEORI BELAJAR KOGNITIF SOSIAL
TEORI
BELAJAR KOGNITIF SOSIAL
DALAM PROSES PEMBELAJARAN
DALAM PROSES PEMBELAJARAN
1.
Hakikat
Teori Belajar Kognitif Sosial
Teori
belajar kognitif sosial adalah sebuah teori hasil tangan tokoh ahli, yang
merupakan seorang psikolog bernama Albert Bandura. Terkait teori ini Albert
Bandura melakukan berbagai eksperimen teori pembelajaran imitatif yang kemudian
dikembangkan pada eksperimen pembelajaran observasi (Husamah dkk, 2018: 107). Teori
kognitif sosial Bandura merupakan perluasan dari teori belajar behavioristik yang memakai perubahan
perilaku akibat faktor stimulus (S)
dan juga respon (R) sebagai dasar
utama (Saeful
Rahmat, 2019: 29), akan tetapi Bandura lewat
eksperimennya berpendapat bahwa faktor sosial, kognitif dan juga faktor
perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran.
Hal
ini berarti bahwa faktor kognitif berupa ekspektasi siswa untuk meraih
keberhasilan sedangkan faktor sosial mencakup pengamatan siswa terhadap
perilaku orang tuanya. Menurut Bandura antara faktor kognitif/person, faktor
lingkungan, dan faktor perilaku mempengaruhi satu sama lain dan faktor-faktor
ini saling berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran. Faktor kognitif
mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran, dan kecerdasan (Santrock,
2007 dalam Husamah dkk, 2018: 108). Atas dasar ini dirinya membedakan teorinya dengan teori sebelumnya, sehingga lahirlah
teori dari Albert Bandura yang bernama social
cognitive theory (teori kognitif sosial).
Dalam
teori kognitif sosial ini, Albert Bandura juga memerhatikan individu tidak
hanya semata-mata-refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat
reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif
individu itu sendiri. Prinsip dasar
belajar menurut teori ini adalah yang dipelajari individu-individu terutama dalam
pembelajaran sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitasion) dan penyajian contoh perilaku (modelling). Teori ini juga masih mementingkan pengondisian, yaitu
berupa pemberian penghargaan dan hukuman, seseorang akan berpikir dan
memutuskan tentang perilaku sosial mana yang pantas atau tidak pantas untuk dilakukannya
(Noorlaila,
2020: 101-102).
2.
Inti
Teori Belajar Kognitif Sosial
Seperti
yang dijelaskan sebelumnya, salah satu inti dari pembelajaran sosial
menggunakan teori belajar kognitif sosial ini adalah pemodelan (modelling), karena pemodelan ini
merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu. Dalam permodelan
ini, diperlukan juga proses pengamatan yang baik. Untuk itu pembelajaran
melalui proses pengamatan dapat dilakukan sebagai berikut:
1) Pembelajaran
melalui pengamatan dapat terjadi melalui kondisi yang dialami orang lain.
Contohnya: seorang pelajar melihat temannya memperoleh pujian oleh gurunya
karena melakukan perbuatan tertentu, maka ia kemudian meniru melakukan
perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya.
2) Pembelajaran
melalui pengamatan meniru perilaku model meskipun model itu tidak mendapatkan
penguatan positif (penghargaan) atau penguatan negatif (hukuman),
mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamat tersebut dan
mengharapkan mendapat pujian atau penguatan apabila menguasai secara tuntas apa
yang dipelajari itu. Model tidak harus diperagakan oleh seseorang secara
langsung, tetapi kita dapat juga menggunakan seseorang pemeran atau visualisasi
tiruan sebagai model (Noorlaila, 2020: 102-103).
Selain
pemodelan, terdapat juga dua inti teori belajar kognitif sosial yang menjadi pendekatan
utamanya. Pendekatan teori sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral
siswa ditekankan pada perlunya conditioning
(pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan),
yang dijelaskan secara lebih lengkap sebagai berikut:
1)
Conditioning
Conditioning
membahas
bahwa prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada
dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku- perilaku lainnya
yakni dengan reward (ganjaran/memberi
hadiah atau mengganjar) dan punishment
(hukuman/memberi hukuman) untuk senantiasa berpikir dan memutuskan perilaku
sosial mana yang perlu diperbuat (Noorlaila, 2020: 103).
2)
Imitation
Dalam proses imitasi
atau peniruan, orang tua dan guru perlu memainkan peran penting sebagai seorang
model atau tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa (Noorlaila,
2020: 104). Sebagai contoh, seorang siswa mengamati gurunya
sendiri ketika masuk ke kelas mengucapkan salam dengan beramah tamah sambil
tersenyum, perbuatan ini pun dilakukan secara terus menerus. Hal yang dilakukan
oleh guru tersebut pun akhirnya diserap oleh siswa. Semakin piawai dan
berwibawa memori seorang model, semakin tinggi pula kualitas imitasi perilaku
sosial dan moral siswa tersebut.
3.
Unsur
Teori Belajar Kognitif Sosial dan Implementasinya dalam Proses Pembelajaran
Teori
kognitif sosial bergantung pada unsur-unsur pendukungnya yang menggunakan
gambaran kognitif dari tindakan, secara rinci, unsur-unsur yang menjadi dasar
kognitif dalam proses belajar dapat diringkas dalam 4 tahap, yaitu perhatian/atensi, mengingat/retensi,
reproduksi gerak, dan terakhir motivasi (Noorlaila, 2020: 110), yang masing-masing unsur tersebut dapat diimplemementasikan dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
1)
Perhatian
(Attention)
Subjek
harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya. Subjek
memberi perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain yang
dimiliki. Contohnya, dalam pembelajaran Agama Hindu. Seorang siswa yang tidak percaya diri dalam berdharma wacana, Guru Agama Hindu dapat membimbing siswa tersebut untuk memiliki seorang tokoh idola dari sosok pendharma wacana yang cukup terkenal seperti Ida Pandita Mpu Jaya Acarya Nanda. Sehingga dari sana siswa yang
tidak percaya diri tersebut akan mulai tertarik selalu memperhatikan bagaimana
cara berdharma wacana dari Ida Mpu Jaya Acarya Nanda. Bandura & Walters (1963) dalam
buku mereka Sasial Learning Personality Derelopment
menekankan bahwa hanya dengan memperhatikan orang lain, pembelajaran dapat dipelajari
dengan mudah.
2)
Mengingat
(Retention)
Subjek
yang memperhatikan harus merekam peristiwa terkait dalam sistem ingatannya.
Seperti contoh, setelah berulang kali memperhatikan gaya, sikap, dan teknik berdharma wacana Ida Pandita Mpu Jaya Acarya Nanda sebagai tokoh idolanya, siswa yang yang kurang percaya diri, sesuai dengan
kemampuan otaknya, akan mulai merekam
segala gaya, sikap, dan teknik berdharma wacana tokoh idolanya tersebut. Kemampuan untuk
menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses belajar menurut
teori ini.
3)
Reproduksi
Gerak (Reproduction)
Setelah
mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkah laku, subjek juga dapat menunjukkan
kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku.
Contohnya, setelah memori siswa yang kurang percaya diri sudah mulai diisi
dengan teknik berdharma wacana dari tokoh idolanya, yang dalam hal ini Ida Pandita Mpu Jaya Acarya nanda, siswa ini akan mulai percaya
diri dengan mempratekkan atau menunjukkan teknik berdharma wacana dari tokoh idolanya kepada Guru Agama Hindunya. Disinilah peran selanjutnya dari Guru Agama tersebut untuk selalu memperhatikan dan membimbing siswa akan semakin percaya diri dalam berdharma wacana. Dari sini dapat diketahui praktek lebih lanjut dari
perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan keterampilan.
4)
Motivasi
Subjek
yang telah memulai proses ini, harus diberikan suatu dorongan berupa motivasi
agar melakukannya secara konsisten, seperti contoh, ketika siswa sudah mulai
percaya diri dalam berdharma wacana, tahap selanjutnya Guru Agama Hindu harus memberikan pujian dan
memberikan dorongan kalau si anak senantiasa percaya diri seperti itu dan
berlatih dengan tekun, suatu saat dirinya bisa menjadi seperti tokoh pendharma wacana idolanya. Tokoh pendharma wacana idolanyalah yaitu Ida Pandita Mpu Jaya Acarya Nanda disini, berperan sebagai objek motivasi.
4.
Aplikasi
Teori Belajar Kognitif Sosial Dalam Pembelajaran
Aplikasi
teori kognitif sosial ini dalam pembelajaran tak bisa lepas dari unsur-unsur
pembentuknya. Sebagai contoh adalah ketika seorang anak belajar untuk
mendongeng cerita di depan kelas. Ditahap perhatian, si anak akan ditarik
mengamati gurunya yang sedang mendongeng di depan kelas. Oleh karena itu, anak
didik akan mulai mengamati bagaimana cara gurunya mendongeng di depan kelas, Selanjutnya
pada tahap penyimpanan dalam ingatan si anak akan tersimpan bahwa mendongeng
itu ternyata menyenangkan dan suatu saat jika waktunya tepat ia akan meminta
ibunya di rumah untuk mengajarinya cara mendongeng. Semuanya itu kemudian
dilaksanakan pada tahap reproduksi di mana si anak benar-benar belajar mendongeng bersama sang ibu. Ketika anak itu sudah
berhasil, di sinilah tugas sang ibu untuk memberi reward berupa pujian sebagai
bentuk apresiasi atas keberhasilan sang anak sekaligus merupakan tahap
motivasi.
Jadi
dari sini dapat diketahui juga bahwa penerapan teori ini dalam proses
pembelajaran di dalam kelas, mengandung poin-poin berikut, antara lain:
1) Penyampaian
guru hendaklah cakap dan menarik agar dapat menjadi model untuk siswa.
2) Peragaan
yang dilakukan oleh guru dapat dijelaskan dengan jelas sehingga menarik agar
siswa dapat meniru dengan cepat.
3) Hasil
pekerjaan guru, lukisan, hendaknya bermutu.
4) Guru
boleh menggunakan teman sejawat yang terbaik sebagai model (Noorlaila,
2020: 117).
5.
Kelebihan
dan Kekurangan Teori Belajar Kognitif Sosial
1)
Kelebihan
Kelebihan teori hasil pemikiran Albert
Bandura ini adalah lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya, karena
teori ini menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan
melalui sistem kognitif orang tersebut. Teori ini lebih memandang tingkah laku
manusia bukan semata - mata reflex atas stimulus, melainkan juga akibat reaksi
yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan kognitif manusia itu
sendiri. Pendekatan teori belajar sosial lebih ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasan merespon) dan imitation (peniruan). Selain itu, pendekatan
belajar sosial menekankan pentingnya penelitian empiris dalam mempelajari
perkembangan anak - anak. Penelitian ini pun berfokus pada proses yang menjelaskan
perkembangan anak–anak, faktor sosial dan kognitif.
2)
Kelemahan
Teori belajar kognitif sosial ini
mengarah pada pembelajaran yang membentuk tingkah laku manusia melaui proses
peniruan (modelling), yang sudah
pasti kelemahan dari teori ini adalah kemungkinan sebagian dari individu yang
menggunakan teknik peniruan ini juga akan meniru tingkah laku yang negatif,
baik dari gurunya, orang tuanya, maupun orang-orang disekitarnya (Noorlaila,
2020: 117-118).
6.
Kesimpulan
dan Saran Terkait Materi Teori Belajar Kognitif Sosial
1) Kesimpulan
Teori belajar
kognitif sosial adalah sebuah teori oleh seorang psikolog terkenal bernama
Albert Bandura yang menyatakan bahwa faktor kognitif/person, faktor lingkungan,
dan faktor perilaku merupakan faktor-faktor utama yang mempengaruhi individu
dalam proses pembelajaran yang berinti pada proses permodelan (modeling), pengkondisian (conditioning),dan peniruan (imitaton). Teori kognitif sosial
bergantung pada unsur-unsur pendukungnya yang digunakan sebagai gambaran
kognitif dari tindakan, yang dapat diringkas dalam 4 tahapan, yaitu perhatian/atensi, mengingat/retensi,
reproduksi gerak, dan terakhir motivasi, yang kesemua unsur tersebut menjadi
dasar dalam pengaplikasian teori belajar ini dalam proses pembelajaran. Sama
halnya seperti teori-teori yang lain, teori ini juga memiliki beberapa
kelebihan dan kekurangan, kelebihan teori ini adalah mudah dalam
pengaplikasiannya dan lebih lengkap dan terinci dibandingkan teori behavioristik, sementara dari segi
kekurangannya, karena teori ini berpaku juga pada proses peniruan, anak didik
bisa juga meniru hal-hal yang sifatnya negatif.
2)
Saran
Bagi seorang pendidik teori ini memang sangat
relevan dan efektif digunakan dalam proses pembelajaran, akan tetapi pendidik
harus mau berkomitmen bahwa dalam pengimplementasian teori belajar kognitif
sosial ini, disamping sebagai model yang menjadi panutan bagi anak didik untuk
melakukan hal-hal yang positif, pendidik juga harus bisa menjadi tameng penjaga
agar anak didik tidak meniru hal-hal yang sifatnya negatif.
SUMBER
REFRENSI
Husamah
dkk, 2018. Belajar dan Pembelajaran
(Cetakan ke-2). Malang: UMM Press
Isti’ada, Feida Noorlaida. 2020. Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan. Jawa
Barat: Edu Publisher
Rahmat, Pupu Saeful. 2019. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Scopindo


Komentar
Posting Komentar