TEORI BELAJAR PENGOLAHAN INFORMASI



TEORI BELAJAR PENGOLAHAN INFORMASI



1.    Hakikat Teori Belajar Pengolahan Informasi

Teori belajar pengolahan informasi dikemukakan oleh Robert Gagne, yang merupakan seorang ahli psikologi pendidikan. Gagne memiliki pendapatnya sendiri mengenai istilah belajar, yaitu sebagai proses suatu organisasi atau peserta didik berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman yang pernah dialaminya. Belajar adalah proses yang memerlukan waktu untuk dapat melihat perubahannya (dari kurang baik menjadi lebih baik). Lewat teori belajar pengolahan informasi, Gagne juga berpendapat bahwa pembelajaran adalah periode terjadinya penerimaan informasi diawali melalui rangsangan yang diterima panca indera disalurkan ke sistem syaraf, kemudian informasi tersebut diolah oleh sistem syaraf dengan cara ada yang dibuang, ada juga yang disimpan dalam bentuk ingatan jangka pendek atau jangka panjang. Dan terakhir, informasi baru akan berelasi dengan ingatan yang lama dan dapat diungkap kembali dalam bentuk hasil belajar (Saeful Rahmat, 2019: 34).

Dari sana bisa diasumsikan bahwa pengolahan informasi dapat dianalogikan sebagai sebuah pengolahan komputer. Fungsi-fungsi dari sistem manusia serupa dengan sistem sebuah komputer. Sistem manusia menerima informasi, menyimpannya dalam memori, dan mengambilnya lagi disaat yang diperlukan. Para peneliti juga berasumsi bahwa pengolahan informasi terlibat dalam semua aktivitas kognitif yaitu melihat/merasakan, mengulang, berpikir, memecahkan masalah, mengingat, lupa, dan mencitrakan (Farnham-Diggory, 1992 dalam Rafiqa, 2017: 162). Pengolahan informasi menjangkau lebih dari konsep tradisional tentang pembelajaran manusia. Sama seperti sebuah computer yang terdapat 2 perangkat dalam proses pengolahan informasinya yaitu perangkat lunak yang terdapat di dalam sistem, dan perangkat keras yang berada diluar sistem. Hal ini juga terjadi dalam tubuh manusia yang dipengaruhi oleh 2 seperangkat proses yang sifatnya internal dan eksternal. Menurut Gagne dalam hal ini, perangkat internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan perangkat eksternal berasal dari lingkungan luar, yang berpengaruh juga dalam pengolahan informasi kemudian berpengaruh dalam penyimpanan memori individu.

Analogi Memori di Otak Manusia Bagaikan Pengolahan Komputer

2.    Tiga Komponen Teori Belajar Pengolahan Informasi

    Dari penjelasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa teori ini mengenal 3 komponen utama, yaitu sensory receptor, working memory, dan long term memory, yang penjelasan lebih lengkapnya, sebagai berikut:

     1) Sensory Receptor atau syaraf reseptor adalah sel syaraf yang berfungsi sebagai tempat pertama kali informasi diterima dari luar.  Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi manusia melalui berbagai sahran sesuai dengan nderanya. Sistem persepsi bekerja pada informasi ini untuk menciptakan apa yang kita pahami sebagai persepsi. Karena keterbatasan kemampuan dan banyaknya informasi yang masuk, tidak semua informasi bisa diolah. Informasi yang baru saja diterima ini disimpan dalam suatu nuang sementara (buffer) yang disebut sensory memory. Durasi suatu informasi dapat tersimpan di dalam sensory memory ini sangat singk at, kurang dari 1/2 sekon untuk informasi visual dan sekitar 3 sekon untuk informasi audio. Tahap pemrosesan informasi tahap pertama ini sangat penting karena menjadi syarat untuk dapat mekikukan pemrosesan informasi di tahap berikutnya, sehingga perhatian dalam proses pembelajaran terhadap informasi yang baru diterinanya ini menjadi sangat diperlukan. Pembelajar akan memberkan perhatian yang lebih terhadap informasi jika infornasi tersebut meniliki fitur atau ciri khas yang menarik dan jika informasi tersebut mampu mengaktifkan pok pengetahuan yang tekah dimiliki sebelumnya (prior knowledge).

     2) Short-term Memory atau Working Memory, adalah memori yang mampu menangkap informasi yang mendapat perhatian individu, serta memperoleh perhatian yang dipengaruhi oleh persepsi. Memori ini berhubungan dengan apa yang sedang dipikirkan seseorang pada suatu saat ketika menerima stimulus dari lingkungan. Durasi suatu informasi tersimpan di dalam short-term memory adalah 15-20 sekon. Durasi penyimpanan di dalam short-term memory ini akan bertambah kama, bisa menjadi sampai 20 menit, jika terdapat pengulangan informasi. Informasi yang masuk ke dalam short-term memory berangsur-angsur menghilang ketika informasi tersebut tidak lagi diperlukan. Jika informasi dalam short-term memory terus digunakan, maka lama-kelamaan informasi tersebut akan masuk ke dalam tahapan penyimpanan informasi berikutnya. yaitu long-term memory.

     3) Long Term Memory merupakan memori yang mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan sekali informasi disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Penyimpanan informasi dalam long-term memory dapat diumpamakan seperti peristiwa yang terjadi pada penulisan data ke dalam disket atau hardisk komputer atau pun perekaman suara ke dalam kaset. Kapasitas penyimpanan memori yang memiliki singkatan LTM ini, dapat dikatakan tak terbatas besamya dengan durasi penyimpanan seumur hidup. Kapasitas penyimpanan disebut tak terbatas dalam arti bahwa dapat digunakan untuk menyimpan informasi baru dan tersimpan dalam waktu yang lama, berapa pun umur orang tersebut. Durasi penyimpanan seumur hidup diartikan sebagai informasi yang sudah masuk di dalam long-term memory tidak akan pernah hilang (Heru dkk, 2016: 9-10)

3.    Fase Belajar Menurut Teori Belajar Pengolahan Informasi

Tahapan proses pembelajaran menurut Gagne dijelaskan dalam beberapa tingkatan, yaitu: (1) motivasi, (2) pemahaman, (3) perolehan; (4) penyimpanan, (5) Ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan, dan (8) umpan balik (Saeful Rahmat, 2019: 35). Kemudian fase ini dibagi dan lebih di khususkan lagi dalam empat fase utama dalam proses pembelajaran, yang dijelaskan sebagai berikut:

1) Fase Receiving the stimulus situation (pemahaman) merupakan fase seseorang memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. Stimulus itu dapat spontan diterima atau seorang Guru dapat memberikan stimulus agar siswa memperhatikan apa yang akan diucapkan.
2)  Fase Stage of Acquition (perolehan), pada fase ini seseorang akan dapat memperoleh suatu kesanggupan yang belum diperoleh sebelumnya dengan menghubung-hubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumnya, Atau boleh dikatakan pada fase ini siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.
3)    Fase Storage / retensi  (penyimpanan) adalah fase penyimpanan informasi, ada informasi yang disimpan dalam jangka pendek dan ada yang dalam jangka panjang. Melalui pengulangan, informasi dalam memori jangka pendek dapat dipindahkan ke memori jangka panjang.
4)  Fase Retrieval/ Recall (ingatan kembali), adalah fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori. Kadang-kadang dapat saja informasi itu hilang dalam memori atau kehilangan hubungan dengan memori jangka panjang. Untuk lebih daya ingat maka perlu informasi yang baru dan yang lama disusun secara terorganisasi, diatur dengan baik atas pengelompokan-pengelompokan menjadi kate-gori, konsep sehingga lebih mudah dipanggil (Lefudin, 2014: 110).

Terdapat juga fase-fase lain yang dianggap tidak utama, terdiri atas:

1)  Fase motivasi, adalah fase pemberian motivasi/ dorongan olch guru sebelum pelajaran dimulai.
2) Fase generalisasi, adalah fase transfer informasi, pada situasi- situasi baru, agar lebih meningkatkan daya ingat, siswa dapat diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi baru tersebut.
3) Fase penampilan atau perlakuan, adalah fase dimana siswa harus memperlihatkan sesuatu penampilan yang nampak setelah mempelajari sesuatu, seperti mempelajari struktur kalimat dalam bahasa mereka dapat membuat kalimat yang benar.
4) Fase umpan balik, adalah fase pemberian umpan balik dari apa yang telah ditampilkan oleh siswa (Lefudin, 2014: 111).

4.    Kapabilitas Manusia Menurut Teori Belajar Pengolahan Informasi

Setelah selesai belajar, penampilan yang dapat diamati sebagai hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan (capabilities). Kemampuan-kemampuan tersebut dibedakan berdasarkan atas kondisi mencapai kemampuan tersebut berbeda-beda. Ada lima kemampuan (kapabilitas) sebagai hasil belajar yang diberikan Gagne, yaitu:

1)     Verbal information (informasi verbal), adalah kemampuan siswa untuk memiliki keterampilan mengingat informasi verbal, ini dapat dicontohkan kemampuan siswa mengetahui benda-benda, huruf alphabet dan yang lainnya yang bersifat verbal.
2)   Intellectual skills (keterampilan intelektual), merupakan penampilan yang ditunjukkan siswa tentang operasi-operasi intelektual yang dapat dilakukannya. Keterampilan intelektual memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya nmelalui pengunaan simbol-simbol atau Yang membedakan keterampilan gagasan-gagasan. intelektual pada bidang tertentu adalah terletak pada tingkat kompleksitasnya.
3)  Cognitive strategies (strategi kognitif), merupakan sustu macam keterampilan intelektual khusus yang mempunyai kepentingan tertentu bagi belajar dan berpikir. Proses kontrol yang digunakan siswa untuk memilih dan mengubah cara- cara memberikan perhatian, belajar, mengingat dan berpikir.
4)    Attitudes (sikap-sikap) merupakan pembawaan yang dapat dipelajari dan dapat mempengaruhi perilaku sescorang terhadap benda, kejadian atau mahluk hidup lainnya. Sekelompok sikap yang penting ialah sikap-sikap kita terhadap orang lain. Bagaimana sikap-sikap sosial itu diperoleh setelah mendapat pembelajaran itu yang menjadi hal penting dalam menerapkan metode dan materi pembelajaran.
5)     Motor skills (keterampilan motorik) merupakan keterampilan kegiatan fisik dan penggabungan kegiatan motorik dengan intelektual sebagai hasil belajar. Keterampilan motorik bukan hanya mencakup kegiatan fisik saja tapi juga kegiatan motorik dengan intelektual seperti membaca, menulis, dan lain-lainnya (Lefudin, 2014: 112).

5.    Kejadian-Kejadian Belajar Menurut Teori Belajar Pengolahan Informasi

Mengajar terdiri dari sejumlah kejadian-kejadian tertentu yang menurut Gagne terkenal dengan "Nine instructional events" yang dapat diuraikan sebagai berikut:


1)  Gain attention (memelihara perhatian). Dengan stimulus ekster berusaha dibangkitkan perhatian dan motivasi siswa untuk belajar.
2)  Inform learners of objectives (penjelasan tujuan pembelajaran). Menjelaskan kepada murid tujuan dan hasil apa yang diharapkan setelah belajar. Ini dilakukan dengan komunikasi verbal.
3)  Stimulate recall of prior learning (merangsang murid). Merangsang murid untuk mengingat kembali konsep, aturan dan keterampilan yang merupakan prasyarat agar memahami pelajaran yang akan diberikan.
4)  Present the content (menyajikan stimuli). Menyajikan stimuli yang berkenaan dengan bahan pelajaran sehingga murid menjadi lebih siap menerima pelajaran.
5)  Provide learning guidance (memberikan bimbingan). Memberikan bimbingan kepada murid dalam proses belajar.
6)  Explicit performance /practice (pemantapan apa yang dipelajari). Memantapkan apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari itu.
7)  Provide feviback (nmemberikan feedback). Memberikan feedback atau balikan dengan memberitahukan kepada murid apakah hasil belajarnya benar atau tidak.
8) Assess performane (menilai hasil belajar). Menilai hasil-belajar dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengetahui apakah ia telah benar menguasai bahan pelajaran itu dengan memberikan beberapa soal.
9)  Enhance retention and transfer to the job (mengusahakan transfer). Mengusahakan transfer dengan memberikan contoh-contoh tambahan untuk menggeneralisasi apa yang telah dipelajari itu sehingga ia dapat menggunakannya dalam situasi-situasi lain (Lefudin, 2014: 112-113).

6.    Penerapan Teori Belajar Pengolahan Informasi dalam Proses Pembelajaran

Dari seluruh penjelasan diatas dapat diambil contoh penerapan Teori Belajar Pengolahan Informasi Robert Gagne dalam proses pembelajaran antara lain:

      1)  Guru dapat melakukan aktivitas yang dapat menarik motivasi peserta didik. Harapannya, peserta didik lebih semangat untuk mempelajari materi yang akan diberikan. Beberapa aktivitas yang dapat digunakan untuk menarik motivasi belajar, seperti: cerita yang mampu memancing pertanyaan, pertanyaan yang menanyakan masa depan peserta didik kedepannya.
      2)   Memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai tujuan belajar yang akan dicapai, tidak hanya itu, pastikan pebelajar paham kenapa mereka harus mempelajari materi tersebut dan ikut aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
    3)  Memberikan pertanyaan kepada peserta didik  selama pembelajaran untuk menjelaskan untuk mengetahui apa saja yang sudah diperoleh peserta didik setelah proses pembelajaran.
      4)   Memberikan kuis mendadak kepada peserta didik di akhir pembelajaran untuk mengetahui ingatan peserta didik terhadap materi pembelajaran.
     5)  Event selanjutnya yaitu mengingat kembali pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya. Kegiatan yang dapat dilakukan seperti menanyakan penyimpanan atau pemahaman mereka terhadap pengetahuan sebelumnya, lewat ulangan dan lain-lain.  
  6) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyimpulkam ulang di akhir materi pembelajaran.
 7) Memperlakukan dan melakukan evaluasi setelah melihat hasil dari proses satu sampai tujuh (Noorlaila, 2020: 103).

7.    Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Pengolahan Informasi

1)  Kelebihan
  Dengan manggunakan teori pemprosesan atau pengolahan informasi akan membantu meningkatkan keaktifan siswa untuk berfikir dalam kegiatan pembelajaran. Siswa akan berusaha mengaitkan suatu kejadian atau proses pembelajaran yang menarik dengan materi yang disampaikan, karena dalam teori pemprosesan informasi guru atau pendidik di tuntut untuk kreatif dalam memberikan pengajaran terhadap peserta didik. Yang dimaksud guru kreatif tersebut adalah gunu mampu menyajikan materi pembelajaran dengan menggunakan alat bantu dan metode penyampa ian yang dapat menarik siswa schingga, siswa akan mudah mengingat dan menahami materi yang di sampaikan.

2)  Kekurangan
     Jika seorang guru tidak bisa menyampaikan meteri pembelajaran dengan metode dan alat bantu yang dapat menarik siswa, maka proses pembelajaran akan terasa membosankan. Sehingga tidak akan menarik perhatian siswa yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu apabila menghadapi siswa atau peserta didik yang benar-benar tidak mampu diajak untuk aktif berfikir maka akan terjadi ketidak singkronan antara pendidik dan peserta didik sehingga tujuan pembelajaran tidak akan tercapai (Heru dkk, 2016: 14).

8.    Kesimpulan

Teori belajar pengolahan informasi adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Robert Gagne, yang menyatakan bahwa, pembelajaran adalah periode terjadinya penerimaan informasi, kemudian diolah dan dihasilkan output dalam bentuk hasil belajar yang bergantung pada 3 komponen, yaitu sensory receptor, working memory, dan long term memory. Tahapan proses pembelajaran dalam teori ini dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu: (1) motivasi, (2) pemahaman, (3) perolehan; (4) penyimpanan, (5) Ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan, dan (8) umpan balik. Kategori belajar juga dibagi yang terdiri dari  (1) Verbal Information yaitu informasi berwujud uraian kata-kata, ulasan, maupun penjelasan yang bisa dikomunikasikan menggunakan bahasa baik secara lisan maupun tulisan (2)  Intellectual Skill merupakan kemampuan yang dibutuhkan dalam aktivitas mental seperti berpikir, menggunakan logika, dan memecahkan masalah. (3) Cognitive Strategy, merupakan kemampuan internal atau dalam diri seseorang dalam berpikir, mengambil keputusan terkait suatu kejadian. Sehingga dari sini mennghasilkan sejumlah kejadian-kejadian tertentu dalam mengajar yang menurut Gagne terkenal dengan sebutan "Nine instructional events".

9.    Saran
Seorang guru yang menggunakan teori ini dalam proses pembelajaran hendaknya mampu menyampaikan meteri pembelajaran dengan metode dan alat bantu yang dapat menarik siswa, agar proses pembelajaran tidak membosankan, dan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menangkap informasi sehingga dapat tersimpan dalam memori jangka panjang siswa.



SUMBER REFRENSI

Heru dkk. 2016. Teori Belajar Pemroresan Informasi. Makalah: UNNES Press
Isti’ada, Feida Noorlaida. 2020. Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan. Jawa Barat: Edu Publisher
Lefudin. 2014. Belajar & Pembelajaran. Sleman : Dee Publish
Rafiqa. 2016. Teori Pengolahan Informasi : Perspektif Pendidikan. Jurnal : UPI Press
Rahmat, Pupu Saeful. 2019. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Scopindo


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEORI BELAJAR KONTRUKTIVISME

MENIMBANG HITAM DAN PUTIH PEMBELAJARAN VIA DARING DI TENGAH PANDEMI VIRUS CORONA